Rabu, 19 Mei 2010

Sri Mulyani: Jual Beli Kebijakan, dan Pejabat Publik pun Tergelincir

Terlepas dari penilaian beberapa pakar mengenai kecenderungannya sebagai salah satu technocrat Neo-Lib, Sri Mulyani jujur memaparkan fakta yang dialaminya bahwa memang di negeri ini para kapitalis lah yang berkuasa. Pemerintah memerlukan dana dari mereka untuk mengokohkan kedudukannya. Komoditi apa yang dimiliki (pemerintah) untuk mendapatkan dana ? Betul : KEBIJAKAN. Pemerintah adalah institusi resmi pembuat kebijakan, walhasil terjadilah jual beli kebijakan itu yang pastinya kesemuanya untuk kepentingan para kapitalis tersebut.

Sebenarnya kondisi seperti ini, yakni yang disebut dengan kondisi dengan ideology KAPITALISME, bersumber dari ideology SEKULER, di mana (secara teoritis) memberikan wewenang pada rakyat (manusia) untuk membuat aturan hukum (baca:kebijakan) bagi kehidupan mereka. Pada tahap implementasi, alih-alih mensejahterakan rakyat, sekulerisme ini akan mensejahterakan orang-orang yang memiliki modal (kapitalis). Pejabat public sebaik apa pun, bila berada dalam system ini akhirnya akan tergelincir juga, persis seperti yang diceritakan oleh Ibu Sri Mulyani di bawah ini..

Semakin jelas bahwa memang kita harus segera meninggalkan ideology yang rusak ini, dan kembali menegakkan ideology yang shahih yang berdasarkan pada syariah Islam. Semoga tak lama lagi…Insya Allah..(Ning)



Sri Mulyani: Jual Beli Kebijakan, dan Pejabat Publik pun Tergelincir

Selasa, 18 Mei 2010 | 23:13 WIB


Sumber : Tempointeraktif

TEMPO Interaktif, Jakarta -Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya mengakui pengunduran dirinya sebagai pejabat publik merupakan suatu kalkulasi politik. Pernyataan ini menjawab tabir penyebab mundurnya Menteri Keuangan terbaik versi Emerging Markets.


Dalam Kuliah Umum bertajuk "Kebijakan Publik dan Etika Publik", Sri menuturkan keputusannya untuk hengkang ke Bank Dunia disesalkan banyak pihak. Tapi baginya, keputusan itu tak terlepas dari situasi politik terkini yang menyebabkan dirinya tak lagi dikehendaki untuk mengemban jabatannya.

"Sumbangan saya sebagai pejabat publik tak lagi dikehendaki dalam situasi politik dimana perkawinan keputusan itu begitu sangat dominan. Orang bilang kartel, saya bilang itu kawin," kata dia di Hotel Ritz Carlton, Selasa (18/5).

Menurutnya, dengan semua episode yang terjadi di ruang publik, rakyat sebagai pemegang saham utama berhak memilih chief executive officer republik ini dan juga memilih orang-orang yang menjadi pengawas CEO. Proses ini, lanjut Sri, tak murah dan mudah. "Butuh biaya luar biasa. Apalagi (memilih) Presiden, dan tak bisa terbayangkan," ujarnya.

Bahkan Sri yang telah dipilih dua periode Kabinet Indonesia Bersatu mengaku terkejut dengan besarnya biaya sebab menjadi beban personal. Besarnya biaya, ia gambarkan sangat tak masuk akal karena tak masuk perhitungan pengembalian investasi.

Untuk mendapatkan dana luar biasa itu, mau tidak mau, kandidat harus "berkolaborasi" dengan sumber finansial. Kandidat di tingkat daerah, tak mungkin kolaborasi pendanaan dibayar dari penghasilan. Satu-satunya cara yang memungkinkan yakni melalui jual beli kebijakan.

"Pertanyaan kita semua adalah dengan kebijakan yang mahal pasti akan dibalikkan kepada awal (biaya yang sangat mahal)," kata Sri. "Hasilnya adalah perkawinan, siapa yang akan mendapat kepentingan itu."

Kebijakan publik untuk masyarakat, lanjutnya, dibuat oleh kekuasaan. Sehingga bahan utamanya yaitu kekuasaan yang amat mudah menggelincirkan pejabat publik. "Kekuasaan itu membuat korup," katanya.

Baca Selanjutnya..

Senin, 03 Mei 2010

Pantaskah mempertanyakan AlQur'an ?


"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya . "(TQS Al Hijr : 9)

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keyakinan yang seyakin-yakinnya kepada kita semua sehingga tak pernah terbersit sedikitpun untuk meragukan AlQur'an yang telah dijamin pemeliharaannya oleh Allah SWT. Sementara para liberalist saat ini banyak berusaha untuk menghujat-nya. SIlakan baca di tulisan berikut. (Ning)

Beramai-ramai Menghujat al-Quran
sumber : Insists

Umat Islam Indonesia sekarang memasuki babak baru yang sangat menentukan masa depannya. Arus sekularisasi dan liberalisasi yang kini diusung dan digelindingkan sendiri oleh sejumlah tokoh, kampus, dan organisasi Islam, telah menemukan bentuknya yang mendekati apa yang terjadi di dunia Kristen. Gagasan liberalisasi yang ratusan tahun lalu digelindingkan di dunia Yahudi dan Kristen kini dipaksakan kepada Islam. Maka, apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh umat Islam, sekarang sudah mulai harus dipikirkan.

Salah satu isu penting yang digelindingkan kaum liberal adalah masalah isu otentisitas al-Quran. Kaum Liberal – yang menganut paham pluralisme agama – tampaknya tidak rela, kalau kaum Muslim masih saja mengklaim, hanya agamanya saja yang benar, dan hanya Kitab Sucinya (al-Quran) saja yang benar. Sesuai paham pluralisme agama, maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok agama yang mengklaim hanya kitab sucinya saja yang suci.

Maka, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Quran. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas dari kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti al-Quran yang menjelaskan tentang otentisitas al-Quran, dan kekeliruan dari kitab-kitab agama lain.

Kata seorang yang aktif menjadi penyebar paham liberal di Indonesia: "Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat. (Jawa Pos, 11 Jan. 2004).

Jadi, orang tersebut tidak mau mengakui bahwa al-Quran adalah satu-satunya Mukjizat yang masih tersisa di zaman akhir ini, yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Padahal, begitu banyak ayat al-Quran yang menjelaskan tentang otentisitas al-Quran dan tindakan kaum Yahudi dan Kristen yang telah mengubah kitab sucinya sendiri, sehingga menurut al-Quran, kitab suci mereka itu sekarang menjadi tidak suci lagi. Misalnya, Allah SWT berfirman: "Sebagian dari orang-orang Yahudi mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya." (An Nisa: 46)

Juga firman-Nya: "Maka apakah kamu ingin sekali supaya mereka beriman karena seruanmu, padahal sebagian mereka ada yang mendengar firman Allah, lalu mengubahnya sesudah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahuinya." (al-Baqarah:75)

Dan firman-Nya: "Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakan: "Ini adalah dari Allah." (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat tindakan mereka. (al-Baqarah:79)

Itulah penjelasan al-Quran tentang kitab-kitab kaum Yahudi dan Kristen. Semestinya, sebagai orang yang mengaku Muslim, tentu ayat-ayat al-Quran itu menjadi pegangan hidup dan pedoman berpikirnya. Sebab, al-Quran adalah landasan utama keimanan seorang Muslim. Jika tidak mau mengakui kebenaran al-Quran, untuk apa mengaku Muslim! Konsistensi berpikir semacam ini sangat penting, sehingga tidak memunculkan kerancuan dan ketidakjujuran dalam beragama. Bagi kaum Kristen yang percaya Injil, tentu akan menolak al-Quran. Itu sudah normal dan wajar. Aneh, kalau seorang tetap mengaku Kristen, tetapi pada saat yang sama juga mengaku percaya kepada kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran.

Maka, adalah aneh dan keluar dari logika normal, kalau ada yang mengaku Muslim tetapi mengingkari kesucian al-Quran dan sekaligus juga mengimani kesucian kitab-kitab agama lain saat ini, yang sudah jelas-jelas banyak bagiannya bertentangan dengan al-Quran. Apalagi menyatakan bahwa semua kitab suci agama-agama lain adalah mukjizat. Sungguh pernyataan yang tidak masuk akal. Apakah Kitab Suci aliran kebatinan Darmo Gandul dan Gatholoco juga mukjizat?

Tetapi, rupanya, para penyebar dan pengasong ide-ide liberalisme di kalangan kaum Muslim, tidak berhenti sampai di situ. Mereka kini aktif menulis berbagai buku dan artikel yang mencoba menggoyahkan keyakinan kaum Muslim terhadap kesucian al-Quran. Seorang dosen Ulumul Quran di satu IAIN di Indonesia menulis satu makalah berjudul "Edisi Kritis al-Quran", yang isinya menyatakan: "Uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencoba mengungkapkan secara ringkas proses pemantapan teks dan bacaan al-Qur'an, sembari menegaskan bahwa proses tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Karena itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatu upaya penyuntingan edisi kritis al-Qur'an."

Jadi, si dosen itu ingin meyakinkan kepada kita, bahwa al-Quran kita saat ini masih bermasalah, tidak kritis, sehingga perlu diedit lagi. Dosen itu pun menulis sebuah buku serius berjudul "Rekonstruksi Sejarah al-Qur'an" yang juga meragukan keabsahan dan kesempurnaan Mushaf Utsmani. Dia tulis dalam bukunya (2005:379-381): "Terdapat berbagai laporan tentang eksistensi bagian-bagian terhentu al-Quran yang tidak direkam secara tertulis ke dalam mushaf oleh komisi Zayd, dan karena itu menggoyahkan otentisitas serta integritas kodifikasi Utsman…Dengan demikian, pandangan dunia tradisional telah melakukan sakralisasi terhadap suatu bentuk tulisan yang lazimnya dipandang sebagai produk budaya manusia."

Jadi, sekali lagi, penulis buku itu mencoba meyakinkan bahwa mushaf Utsmani masih bermasalah, dan tidak layak disucikan. Yang ironis, buku ini diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, tanpa memberikan kritik yang berarti. Dalam pengantarnya, Quraish menulis, "Kasarnya, ada sejarah yang hilang untuk menjelaskan beberapa ayat atau susunan ayat al-Quran dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas."

Penulis lain, seorang calon doktor dari satu Universitas di Australia yang juga rajin mengasongkan paham liberalisme, menulis sebuah catatan: "Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Al-Quran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma'nan).

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam."

Ada lagi sebuah tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), yang secara terang-terangan juga menghujat Mushaf Utsmani. Tesis itu sudah diterbitkan dalam sebuah buku berjudul: "Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan", dan diberi kata pengantar dua orang doctor dalam bidang studi Islam, dosen di pascasarjana UIN Yogyakarta. Di dalam buku ini, misalnya, kita bisa menikmati hujatan terhadap al-Quran seperti kata-kata berikut ini:

"Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sacral dan absolute, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkekenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita."

Fenomena menghujat al-Quran seperti dilakukan oleh para sarjana dari kalangan Muslim semacam ini adalah fenomena baru dalam sejarah Islam Indonesia. Selama 350 tahun dijajah Belanda, fenomena semacam ini tidak pernah ada. Hal semacam ini sudah begitu lumrah dalam tradisi Kristen. Kritik terhadap Bibel sudah menjadi hal biasa. Mereka sudah mengembangkan satu bidang ilmu yang dikenal dengan nama "Biblical Criticism".

Tradisi Kristen semacam ini sekarang dibawa masuk ke dalam tradisi Islam oleh orang-orang dari kalangan Muslim sendiri, yang terpengaruh oleh tradisi Kristen. Jika kita simak sebuah buku berjudul "Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan" (Yogyakarta: Kanisius, 2003), tampak bagaimana pengaruh studi Bibel telah merasuk ke dalam studi al-Quran di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Para penyerang al-Quran sebenarnya hanya menjiplak ide-ide dan bukti-bukti yang disodorkan oleh para orientalis Yahudi dan Kristen. Bisa jadi, mereka juga mengambil fakta-fakta yang telah ditulis oleh para ulama Muslim. Tetapi, dianalisis dalam perspektif sesuai kepentingan orientalis. Jauh sebelumnya, pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Iraq dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, sudah mengimbau bahwa "sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures)."

Imbauan pendeta Kristen dan tokoh studi Islam itulah yang kini diikuti oleh begitu banyak sarjana dari kalangan Muslim. Fenomena penyerangan terhadap al-Quran ini harusnya menjadi perhatian paling serius oleh para ulama dan cendekiawan Muslim. Ini adalah bentuk kemungkaran yang sangat besar. Sebab, mereka telah membongkar satu asas keyakinan kaum Muslim yang paling asas, yaitu tentang kesucian al-Quran. Mungkin para penghujat al-Quran itu sedang khilaf. Mungkin ia merasa menemukan sesuatu yang hebat sehingga merasa dirinya lebih hebat dari para Imam dan ulama Islam terkemuka. Mungkin juga mereka sekedar iseng, karena motif-motif tertentu. Atau, mungkin juga ia merasa menemukan kebenaran.

Terlepas dari semua itu, buku-buku atau artikel yang mereka terbitkan, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Cendekiawan muslim wajib menjawabnya dengan cara-cara ilmiah yang lebih baik dari karya-karya mereka. Tentu saja ini bukan tugas yang ringan, dan memerlukan biaya yang sangat besar. Sebab, harus mengumpulkan literatur-literatur yang sangat banyak. Sayangnya, dalam Kongres Umat Islam yang baru lalu, masalah ini tidak disentuh. Padahal, masalah ini jauh lebih serius daripada masalah bencana alam, pornografi, dan sebagainya. Bukankah Rasulullah saw sudah berpesan, jika kita melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan, lisan, atau hati. Yang menjadi problem besar saat ini adalah ketika para cendekiawan Muslim sendiri tidak paham, bahwa saat ini telah terjadi kemungkaran yang besar semacam ini. Wallahu a’lam. (Jakarta, 29 April 2005).
Baca Selanjutnya..

Selasa, 09 Februari 2010

Madinatul Iman : Tambah Umur Tambah .... ?

Tahun ini, 113 tahun sudah usia Balikpapan. Jauh lebih tua dari hampir seluruh warga yang memperingatinya pada hari ini. Apa yang telah dicapai Balikpapan di usia yang "setua" ini?

Visi Madinatul Iman yang dicanangkan oleh pemerintah kota tampaknya sudah disambut baik oleh warga. Dalam acara launching pada awal tahun hijriah ini, Bapak walikota menjelaskan bahwa Balikpapan madinatul iman adalah Balikpapan yang menjadi City of faith, kota yang didorong oleh semangat keyakinan, dorongan keimanan untuk menjadi lebih baik, maju dengan tetap bermartabat.

Madinatul Iman selalu ditasbihkan kepada kota Madinah di jaman Rasulullah dahulu. Siapa yang tidak ingin memiliki kota seindah itu. Seindah yang yang benar-benar indah, bukan hanya fisiknya tetapi kehidupannya yang makmur, maju di mana setiap warganya dilindungi oleh pemimpinnya, dunia dan akhirat. Dari Madinah lah Rasul memulai mengokohkan kekhilafahan Islam sehingga Islam yang Rahmatan lil 'aalamiin kemudian benar-benar terwujud dan tersebar ke seluruh penjuru dunia, hingga mencapai dua pertiga dunia.


Masa Sebelum Islam

Sebelum Rasul akhirnya mengokohkan Daulah Islam di Madinah, masyarakat arab dikenal sebagai masyarakat jahiliyah. Apa yang terjadi pada masa jahiliyah itu ?

Sistim pergaulannya liberal. Tidak ada aturan yang melarang pergaulan bebas. Campur baur antara lelaki dan wanita dapat bebas terjadi. Prostitusi umum terjadi (biasanya rumah-rumah yang menyediakan layanan ini diberi tanda). Sistim ekonominya ribawi dan penuh kecurangan. Bunga membungakan uang adalah hal yang umum. Mengurangi timbangan sudah menjadi watak penduduk jahiliyah itu. Perempuan mendapat posisi yang terpinggirkan. Bahkan para anak-anak perempuan dibunuh, karena keluarganya malu karena memiliki anak tersebut.Peribadatannya paganisme, menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Terkadang berhala yang disembah itu bahkan dibuat dari roti, yang akhirnya mereka makan sendiri pula.

Setelah diterapkan Islam

Setelah Daulah berdiri, masyarakat jahiliyah itu berubah menjadi masyarakat yang disebut dalam alqur'an sebagai khoyru ummah, umat yang terbaik di antara manusia. Sistem pergaulannya indah dan memuliakan manusia. Jangankan prostitusi, "sekedar" mendekati perzinahan saja sudah sangat ditabukan oleh masyarakat. Perangkat hukum yang ada ditambah dengan keimanan yang tinggi dari masyarakat membuat kehidupan pergaulan yang islami dan menjaga kehormatan manusia. Sistem ekonominya memakmurkan rakyat, karena riba diharamkan secara mutlak, dan perangkat hukum serta keimanan masyarakatnya meniadakan kecurangan. Wanita diberi tempat yang mulia, disayangi dan dilindungi. Serta tiada lagi pembunuhan anak-anak perempuan. Mereka beribadah menyembah kepada Allah, Yang Maha Segalanya, Yang Menciptakan Aturan yang memuliakan manusia.

Sungguh seperti bumi dan langit bila melihat madinah dan jazirah arab SEBELUM Islam dan SESUDAH Islam, Jahiliyah versus Islamiyah, Hitam dan Putih.

Bagaimana dengan Balikpapan?
Back to the Madinatul Iman, Balikpapan. Bila kita refleksikan dengan perbandingan di atas, bagaimana keadaanya ? Apakah mirip Madinah SEBELUM Islam atau SESUDAH-nya ? Hitam atau Putih ?

Kita mungkin masih bersyukur bahwa pengajian-pengajian dan kegiatan-kegiatan keislaman di kota ini cukup marak. Merupakan sebuah modal yang baik untuk meraih visi madinatul iman tersebut.

Bagaimana dengan system pergaulannya ? Saat ini hampir tak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya. Berita yang masih hangat tentang "parade ayam sekolah" di tengah maju mundurnya usaha pentutupan lokalisasi di kota ini membuat sulit untuk tidak mengakui bahwa pergaulan bebas masih mendapat tempat yang luas di kota ini.

Sistem ekonominya ? Riba masih saja menjadi hal yang legal dan terus dilakukan oleh masyarakat. Jurang antara si kaya dan si miskin makin saja bertambah dalam.

Pembunuhan anak ? Kasus pembunuhan anak bahkan sebelum ia dilahirkan (melalui aborsi) marak terjadi. Alih-alih dilindungi, bahkan ada sekelompok orang yang ingin melegalkan pembunuhan seperti ini, demi melindungi hak wanita (si ibu) untuk menentukan apakah kehamilannya diinginkan atau tidak.

Sekedar dari beberapa point di atas, bisa disimpulkan bahwa kondisi kita ini ternyata masih tidak terlalu jauh dari kondisi orang-orang jahiliyah pada masa sebelum diterapkannya Islam. Artinya, masih banyak PR kita bersama untuk mewujudkan Madinatul Iman yang sebenar-benarnya ini.

Apa peran kita?
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan kita sebagai warga yang menginginkan tercapainya visi madinatul iman ini:
Pertama, kita sebagai anggota masyarakat harus selalu berusaha menerapkan syariat Islam di setiap apa yang kita kerjakan. Perlu diingat bahwa syariat Islam bukan sekedar mengatur ibadah mahdhah seperti sholat, puasa, zakat saja. Tetapi di seluruh aspek kehidupan kita.
Kedua, kita harus berusaha membuat suasana dan lingkungan yang kondusif untuk penerapan syariat Islam dengan mengajak masyarakat untuk juga terikat pada syariat Islam di keseluruhan aktifitas yang dilakukannya.
Ketiga, mengkritisi setiap kebijakan penguasa/pemerintah yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
Keempat, tentu saja untuk melakukan ketiga hal di atas, kita harus terus menerus mengkaji Islam.

Dirgahayu Madinatul Iman, Semoga visi ini segera terwujud secara kaaffah.

Baca Selanjutnya..

Kamis, 04 Februari 2010

Promosi Film Lewat Trailer Vulgar

Para kapitalis menggunakan cara apa saja demi mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan usaha dan modal yang sekecil-kecilnya. Prinsip "Halal, Haram, Hantam.." betul-betul dimanfaatkan. Salah satunya adalah dengan membuat sensasi sebanyak-banyaknya, sehingga reaksi masyarakat yang terkadang berlebihan, malah dijadikan pengiklanan gratis untuk mereka.
Penguasa seharusnya bertindak tegas dengan menutup sama sekali peluang inisiatif berbau pornografi ini. (Ning)


Sumber : Detik
Han Kristi

Jakarta - Menampilkan trailer film yang cenderung porno kini tengah menjadi trend di industri film Indonesia. Hal itu sepertinya memang sengaja dilakukan oleh produser film supaya film tersebut bisa menuai kontroversi.Salah satu contohnya, yang terjadi dengan film horor, 'Hantu Puncak Datang Bulan' belum lama ini. Film produksi K2K Production itu menuai kontroversi setelah menampilkan trailer yang vulgar.

Di trailer tersebut, sang bintang utama, Andi Soraya, pun tampak melakoni adegan topless.Ketua Lembaga Sensor Film, Muklis Paeni pun menilai kalau produser memang sengaja memamerkan trailer vulgar itu demi mempromosikan filmnya. Para produser itu berharap trailer yang vulgar itu mendapat protes dari organisasi masyarakat."Maksudnya ini untuk memancing institusi dan ormas agar film ini bisa naik," ujarnya saat ditemui di Gedung Film, Jl MT. Haryono, Jakarta Selatan, Kamis (4/2/2010).Muklis pun mengatakan produser film akan semakin diuntungkan dengan banyaknya pemberitaan di media soal kontroversi film tersebut. Hasilnya, masyarakat akan penasaran untuk menyaksikan film tersebut ketika diputar di bioskop.Hal itu pun diakui oleh Odi Mulya Hidayat, produser 'Suster Keramas' dan 'Air Terjun Pengantin'. Odi mengaku film yang menuai kontroversi akan mendapat promosi gratis di media. Rumah produksi tidak perlu mengeluarkan dana untuk memasang iklan di media tersebut.

Namun, Odi mengungkapkan tidak semua film akan untung jika menuai kontroversi. Menurutnya, kontroversi yang sengaja diciptakan oleh pembuat film bisa berdampak negatif pada filmnya sendiri, bisa jadi film tersebut malah gagal tayang."Bisa jadi kontroversi itu akan menjadi boomerang untuk film itu sendiri," ucapnya saat bincang-bincang dengan detikhot lewat telepon di hari yang sama.Odi ingin supaya LSF lebih memperhatikan trailer-trailer yang kini tengah beredar. Karena dikhawatirkan trailer-trailer yang beredar bisa membohongi masyarakat."Itu sama saja pembohongan publik, adegan-adegan di trailer tidak ada di filmnya," jelasnya.Nah, bagaimana menurut Anda? Apakah seorang produser layak untuk menampilkan trailer yang vulgar?(hkm/hkm)
Baca Selanjutnya..

Minggu, 31 Januari 2010

Ironi Madinatul Iman

Sungguh Ironi. Balikpapan yang menyatakan dirinya sebagai Madinatul Iman, ternyata menyimpan fakta yang pasti membuat merinding warganya. Di luar "prostitusi resmi" yang saat ini penutupannya masih belum jelas, prostitusi yang melibatkan anak-anak sekolah seperti tulisan di bawah ini ternyata telah terjadi selama ini. Sebuah PR besar, terutama untuk warga Madinatul Iman ini...(Ning)

Parade “Ayam Sekolah" di Kamar Hotel
Perawan Rp 7 Juta, Bisa Booking Sekaligus Dua

Sumber : Kaltimpost On line

Makin beragam saja cara yang dipakai para germo di Balikpapan untuk memuaskan pelanggannya. Salahsatunya dengan membuat semacam parade siswi SMU di kamar hotel dengan tujuan agar sang pria hidung belang bisa memilih sesuai selera. Tip yang didapatkan pun tentu bisa lebih tinggi.

HUJAN disertai petir silih berganti menyambut datangnya malam di Kota Beriman, Selasa baru-baru ini. Di sebuah kamar hotel ternama di wilayah Klandasan, Balikpapan Selatan, seorang wanita yang ditemani seorang bocah usia sekira empat tahun tampak sibuk menelepon. Suaranya lantang, bahkan tak jarang terdengar membentak. “Susah kamu itu. Kamu yang dicarikan uang, tapi kamu yang lambat-lambat,” tukasnya lantas menutup ponsel berwarna merah miliknya.

Ibu muda itu sedang memerintahkan sejumlah pekerja seks komersial (PSK) dari kalangan siswi alias “ayam sekolah'' untuk segera datang ke hotel. Di dalam kamar, wartawan Kaltim Post, Mami (germo), dan dua “ayam” sekolah telah hampir sejam menanti “pertunjukan” yang dijanjikan sang Mami. Sebab perjanjian sebelumnya, Mami akan membawa lebih dari lima siswi SMU sekaligus untuk dipilih sesuai selera pelanggan.

Dua gadis yang telah berada di dalam kamar adalah siswi salahsatu SMK negeri di wilayah Ringroad Balikpapan Selatan. Sebelumnya mereka datang berbarengan dengan Mami.

Salahsatu dari siswi itu menenteng sebuah map berwarna biru. Saat ditanya, map itu berisi ijazah yang pagi sebelumnya diurus di sekolahnya. Namun ia enggan memperlihatkan lebih jelas. “Dia itu butuh uang mengurus ijazah. Katanya disuruh bayar Rp 300 ribu. Makanya dia butuh uang,” ujar Mami kepada Kaltim Post.

Kedua gadis itu belum balik ke rumahnya usai pulang sekolah. Hal itu diketahui dari pengakuan mereka, ditambah lagi di masing-masing tasnya terdapat seragam sekolah, lengkap dengan jilbabnya. “Saya izin ke rumah teman. Yang penting sebelum jam 9 saya harus pulang,” kata salahsatu “ayam” sekolah itu.

Sembari mengobrol, Mami tampak gelisah dan sibuk modar-mandir keluar masuk kamar. Tak lama berselang, satu persatu gadis anak baru gede (ABG) dimasukkan ke dalam kamar. Maklum, pihak keamanan hotel itu cukup ketat terhadap masuknya tamu anak di bawah umur, sehingga Mami harus menjemput satu persatu di pos sekuriti basement.

Sekira pukul 19.30 Wita, Mami berhasil memenuhi janjinya. Tujuh “ayam” sekolah diboyongnya sekaligus ke dalam kamar. Lima di antaranya siswi SMK, sisanya seorang pelajar SMP swasta di bilangan Gunung Pasir, Balikpapan Tengah, dan seorang lagi mahasiswi.

Tarif yang ditawarkan untuk siswi dan pelajar itu Rp 500.000 sampai Rp 700.000 sekali “main” (shortime). Sementara mahasiswi yang mirip artis sinetron Shireen Sungkar mematok tarif Rp Rp 1 juta untuk shortime. Semuanya memang hanya meminta shortime, sebab seluruh anak itu harus pulang ke rumah masing-masing sebelum jam 10 malam. “Mau pakai sekaligus dua juga boleh. Tergantung budget-nya,” ungkap Mami menawarkan.

Layaknya parade ladies di sebuah club malam, satu persatu diminta memperkenalkan diri dengan ramah. Sang Mami terlihat menegur dua dari siswi itu karena dinilai penampilannya terlalu norak. “Saya memang tidak ada persiapan. Habis meneleponnya dadakan. Saya ini butuh uang. Saya terima Rp 300 ribu juga nggak apa-apa Kak,” kata salahsatu siswi SMK berbisik kepada Mami.

Saat semua gadis ditolak dengan alasan kurang menarik, senyum Mami langsung muram. “Nggak masalah. Tapi tolong kasi saya uang taksi mereka,” pinta Mami lantas mengantar “ayam-ayam” itu keluar dari kamar menuju basement hotel.

Setelah itu, Mami kembali ke kamar. Ia berusaha profesional dengan tidak menunjukkan tampang kecewa apalagi marah kepada harian ini. Wanita berkulit putih mulus itu lantas menyodorkan beberapa foto di ponselnya. “Lain kali jangan dadakan kalau minta parade. Ini ada lagi model-model. Tapi satu juta ke atas. Ada perawan Rp 7 juta kalau mau. Tapi tunggu sekitar dua hari,” ujarnya. (*)
Baca Selanjutnya..