Minggu, 29 November 2009

Aksi Damai untuk menyelematkan generasi dari HIV/AIDS dan liberalisasi seks

Balikpapan, MMC – Menjelang hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menggelar aksi damai dengan tema : “Selamatkan Generasi dari HIV/AIDS dan Liberalisasi sex”. Di Balikpapan, aksi damai yang diikuti oleh lebih dari 300 orang muslimah ini dimulai dari depan masjid At Taqwa, Klandasan. Rombongan yang mulai memenuhi masjid ini sejak pukul 7 pagi ini kemudian bergerak menyusuri jalan utama menuju kea rah timur, sebelum kemudian berhenti untuk mendengarkan orasi-orasi di halaman depan gedung Bank Bukopin, Kompleks Balikpapan Permai.

Selain beberapa orang orator dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Balikpapan, hadir pula beberapa tokoh yang memberikan orasinya, yakni Robbiatul Addawiyah dari MUI, Fathiyah (tokoh pendidikan) dan Mahmudah (Mubalighoh Balikpapan).


Dalam orasinya, Robbiatul Addawiyah meminta kepada media untuk menuliskan besar-besar, bahwa kaum muslimin di Balikpapan menginginkan penghapusan kegiatan-kegiatan maksiat yang masih ada di Balikpapan, seperti penutupan lokalisasi dan tempat maksiat lainnya. Sementara itu Fathiyah, dengan kapasitasnya sebagai tokoh pendidikan, menyeru kepada para pelajar untuk mampu menjadi contoh bagi lingkungannya, yakni menjaga diri dalam bergaul sehingga senantiasa dalam koridor syariat Islam. Keprihatinan akan masih terpecah belahnya umat Islam disampaikan oleh Mahmudah, yang berulangkali mengingatkan bahwa seluruh umat harus bersatu dan bekerja keras untuk terus menyeru kepada syariat Islam. Keberadaan epdidemi HIV/AIDS ini dikhawatirkan adalah bencana yang diturunkan Allah karena umat Islam belum maksimal dalam memerangi kemaksiatan yang terjadi, demikian Mahmudah. DI akhir orasinya Mahmudah menyampaikan pesannya kepada pemimpin di Balikpapan, yakni walikota dan wakil walikota untuk tidak ragu-ragu memerangi kemaksiatan dan meyakinkan keduanya bahwa kaum muslimin di Balikpapan akan mendukung langkah-langkah tersebut.

Para orator dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyampaikan kekeliruan program-program yang saat ini diluncurkan untuk mengatasi epidemi HIV/AIDS, yakni kondomisasi, substitusi metadon, jarum suntik steril bagi pengguna narkoba dan hidup berdampingan bersama ODHA. Keempat program tersebut terbukti tidak mampu menurunkan angka HIV/AIDS, bahkan justru akan meningkatkan angka HIV/AIDS dengan laju yang lebih cepat lagi. Terbukti dari sejak diluncurkannya program-program tersebut, angka HIV/AIDS meningkat dengan tajam, sebagaimana dalam waktu 2 tahun terakhir, angka HIV/AIDS telah bertambah 8 kali lebih banyak. Solusi tuntas HIV/AIDS yang benar adalah mengatasi akar permasalahan adanya HIV/AIDS tersebut, yakni menghapuskan kemaksiatan dan liberalisasi sex serta memberantas narkoba, termasuk menutup semua industri yang mendukungnya.
Lebih dari itu, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyampaikan bahwa penerapan system sekuler yang menjadikan para kapitalis sebagai pengendali aturan di masyarakat ini lah yang menjadi penyebab utama krisis multidimensi di Indonesia, termasuk epidemi HIV/AIDS ini. Karena itu, untuk menuntaskan krisis multidimensi ini, solusinya adalah kembali menerapkan syariat Islam untuk kehidupan manusia.

Sesi orasi ini diakhiri oleh pembacaan surat dari remaja muslimah yang ditujukan kepada para pemegang kekuasaan eksekutif dan legislatif, meminta dan mengingatkan para penguasa tersebut untuk benar-benar memperjuangkan kehidupan masyarakat yang berdasarkan syariat Islam.

Keseluruhan aksi damai yang mendapatkan pengawalan dan bantuan dari polisi setempat ini ditutup dengan doa, dan seluruh peserta bubar pada sekitar pukul 11.30.
Baca Selanjutnya..

Rabu, 04 November 2009

Kontribusi Hakiki Pemuda Islam terhadap Keterpurukan Umat

khabarislam.wordpress.com. Indonesia sebagai sebuah bangsa dengan mayoritas warga negaranya beragama Islam, banyak menorehkan tinta hitam dengan “prestasi-prestasi” yang telah dibuatnya. Padahal Alloh SWT telah memberi status umat terbaik kepada umat Islam.

Menjadi sebuah permasalahan ketika sebuah negara yang mayoritas dihuni oleh penduduk dengan status muslim hidup dalam suatu keterpurukan yang tersistematis. Kita dapat melihat, dari sekian banyak penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan mayoritas adalah muslim. Kita juga dapat melihat, dari sekian banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan, mayoritas adalah muslim. Kita dapat melihat, dari sekian banyak anak Indonesia yang putus sekolah, mayoritas adalah muslim. Kita juga dapat melihat, dari sekian banyak orang yang tidak diterima untuk mendapat pelayanan kesehatan berkualitas karena biaya yang tinggi, mayoritas adalah muslim. Pertanyaan yang muncul, mengapa semua ini terjadi pada umat Islam? Apa indikator kebangkitan umat Islam untuk berubah dari keterpurukan? dan Siapa yang berpotensial membangkitkan umat Islam?

Kapitalisme Sumber Keterpurukan

Berbagai permasalahan yang menimpa umat Islam di Indonesia tidak akan terselesaikan apabila masalah-masalah tersebut diselesaikan secara substansial. Umat Islam harus mengetahui akar permasalahan yang selama ini terjadi. Setelah mengetahui sumber dari semua masalah yang terjadi, kemudian dapat merancang langkah-langkah guna menghilangkan sumber masalah tersebut.

Umat Islam di Indonesia saat ini berada dalam lingkungan yang serba sekuler. Perilaku konsumtif sebagian besar masyarakat, gaya hidup yang serba glamor, pergaulan laki-laki dan perempuan yang tidak terbatasi oleh aturan yang jelas, sistem pendidikan yang tidak berlandaskan aturan Islam, dan bahkan jika cakupannya lebih luas lagi, maka Indonesia merupakan negara pengikut, dalam arti, kebijakan politik dalam dan luar negerinya terikat terhadap negara lain. Oleh karenanya, tidak heran jika banyak perusahaan-perusahaan asing mengekspolitasi kekayaan alam Indonesia.

Sistem kapitalis yang sekarang dianut oleh Indonesia tidak lebih dari sebuah sistem yang disebarkan oleh negara-negara penganut ideologi kapitalis untuk memisahkan peran agama dengan negara. Akhirnya, umat Islam di Indonesia dalam kehidupannya tidak diatur oleh nilai-nilai Islam. Agama Islam hanya dijadikan simbol ritualitas penyembahan kepada Allah SWT. Hal ini berpengaruh pada sistem kehidupan yang terbentuk. Umat Islam tidak berakhlak dan memiliki pemikiran Islam dalam menentukan arah hidupnya. Segala yang dilakukan hanya dilandaskan pada kepuasan diri dan rasio.

Kebangkitan adalah Ketinggian Berfikir

”Kebangkitan adalah ketinggian berfikir”1. Ketinggian ekonomi bukanlah suatu kebangkitan. Terbukti Kuwait sebagai negara yang memiliki ekonomi yang lebih tinggi dibanding negara-negara Eropa, seperti Swedia, Belanda, dan Belgia adalah negara yang bangkit, sedangkan Kuwait tidak. Demikian juga, Ketinggian Akhlak bukanlah kebangkitan. Buktinya Madinah al Munawaroh kini merupakan negara yang akhlaknya paling tinggi di dunia. Akan tetapi Madinah tidak bangkit. Padahal, Perancis adalah negara yang paling bobrok akhlaknya, tetapi Perancis dapat bangkit. Oleh karena itu, kebangkitan adalah bermula dari ketinggian berfikir.

Walaupun semua negara bisa bangkit, perlu diperhatikan bahwa kebangkitan itu ada yang benar dan yang salah. Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Uni Soviet adalah negara yang bangkit, tetapi kebangkitannya salah2. Kebangkitan yang benar adalah kebangkitan yang berlandaskan pada landasan ruhiyah. Begitu pun ketika berbicara umat Islam di Indonesia, dengan kondisi sekarang yang berada dalam kehinaaan dan keterpurukan, maka satu-satunya cara yang menjadi kata kunci bagi umat Islam di Indonesia adalah perubahan. Akan tetapi, perubahan seperti apa yang diharapkan?. Tentunya perubahan yang berlandaskan pada kejernihan, kedalaman, serta kecemelangan berfikir dengan landasan ruhiyah yang kuat sehingga keadaan hina dan terpuruk yang sekarang dirasakan berubah menjadi sebuah kemuliaan hakiki.

Umat Islam di Indonesia sangat bodoh jika hanya mengandalkan sumber ekonomi yang melimpah. Sumber-sumber ekonomi, jika tidak dikelola dengan landasan ide, maka sia-sia. Hasilnya, bukan bangsa pribumi yang menikmati, tetapi dieksploitasi pihak asing. Oleh karenanya, tidak aneh jika umat Islam di Indonesia banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Umat Islam terus menjadi bahan eksploitasi kaum kapitalis untuk memuaskan kepentingannya.

Poin kedua yang perlu diperhatikan bahwa walaupun semua umat Islam di Indonesia berakhlak baik, tidak akan terjadi suatu kebangkitan. Perilaku individu akan dipengaruhi oleh lingkungan. Dengan kata lain, perilaku umat islam di Indonesia akan dipengaruhi oleh sistem kapitalis yang dilaksanakan di negara Indonesia. Salah satu contoh, kita dapat melihat bagaimana perilaku korupsi yang telah menjadi kebiasaan para wakil rakyat di parlemen. Budaya korupsi merupakan hasil dari demokrasi yang merupakan integral dari kapitalisme. Saya bisa mengatakan, orang-orang yang awalnya berakhlak pun, akan terbawa pada arus korupsi yang telah membudaya.

Umat Islam bisa saja terus melakukan ibadah mahdhoh dan ghoir mahdhoh, tetapi hal tersebut hanya dapat merubah pribadi bukan masyarakat. Di satu sisi, sebagian umat Islam khusyuk dengan shalatnya, tapi di sisi lain banyak umat Islam yang mengalami kelaparan. Di satu sisi, sebagian umat Islam melaksanakan ibadah haji, di sisi lain banyak umat Islam yang untuk makan sesuap nasi saja harus mengulurkan tangannya di jalanan.
Sebagai umat Islam, sudah saatnya menyadari berbagai permasalahan yang terjadi bukan semata-mata takdir dari Alloh, tetapi sebuah kejahatan tersistematis yang dilakukan oleh kaum kapitalis. Oleh karena itu, landasan berfikir umat Islam harus bersumber pada akidah Islam, bukan akidah sosialisme ataupun akidah kapitalisme.

Setelah mengetahui ketinggian berfikir yang berlandaskan pada akidah Islam merupakan indikator kebangkitan umat Islam, kemudian siapa yang berpotensial melakukan perubahan tersebut?

Pemuda Islam: Agent of Change

Sejarah menjadi saksi atas peran pemuda Islam sebagai agen perubahan. Pemuda Ibrahim sering berdebat dengan kaumnya, bahkan ayahnya sendiri untuk tidak menyembah patung-patung buatan manusia yang tidak dapat berbicara, memberi manfaat dan mudhorot. Dengan gigih dan sabar akhirnya pemuda Ibrahim mampu memberi perubahan, walaupun jumlah orang yang meninggalkan penyembahan atas berhala sedikit, tetapi telah memberi pencerdasan pada manusia untuk menyembah Tuhan Yang Satu yaitu Alloh SWT. Selain itu, kisah Ashabul Kahfi yang ditidurkan Alloh selama 300 tahun, mereka adalah anak-anak muda yang menolak pada penyembahan terhadap agama nenek moyang mereka. Kemudian, sebelum Islam mendapat tempat di hati orang-orang Arab, Mus’ab bin Umair yang diutus Rosul untuk menyebarkan Islam di Madinah adalah pemuda tampan yang sebelum masuk Islam hidup dalam gemerlap harta. Setelah masuk Islam, keyakinan akan Islam semakin kuat, sehingga dengan jasa Mus’ab Islam dapat diterima di Madinah hingga tidak ada satu rumah pun yang tidak dimasuki Islam. Begitulah beberapa kisah yang menunjukan peran pemuda dalam merubah masyarakat.

Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar jika pemuda memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki pemuda . Pemikiran kritis mereka sangat didambakan umat. Di mata umat dan masyarakat umumnya, pemuda adalah agen perubahan (agent of change) jika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Pemuda juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak para pemuda.

Peran pemuda Islam sangat diharapkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang bersumber dari sistem kapitalis di negara ini. Pemuda Islam harus bersikap kritis atas permasalahan yang ada. Pemuda Islam harus membuktikan bahwa sistem yang sekarang dianut adalah sistem yang salah. Selanjutnya, pemuda Islam harus memberikan penyadaran pada masyarakat bahwa kehidupan sekarang didasarkan pada sistem kufur. Jangan sampai pemuda Islam menganut akidah kapitalisme yang justru menjerumuskan umat ke jurang yang lebih dalam.

Ketinggian berfikir harus dimiliki oleh seorang pemuda Islam. Dengan demikian, pemuda Islam mampu berdakwah menyerukan Islam sebagai satu-satunya solusi dari berbagai permasalahan hidup saat ini. Ketinggian berfikir dengan landasan akidah Islam yang kuat menjadikan seorang pemuda Islam memiliki Ideologi Islam. Selanjutnya, Pemuda Islam mampu menggerakan masyarakat dengan landasan berfikir tersebut untuk mengganti sistem kufur yang dilaksanakan saat ini dengan sistem Islam.

Permasalahan yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat dari lingkungan sekuler mempengaruhi seluruh sendi dalam kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, Pemuda Islam dengan segala potensi yang dimiliki harus terus berkontribusi terhadap masyarakat dengan ketinggian berfikir yang berlandaskan pada akidah Islam, sehingga Pemuda Islam benar-benar merupakan agen perubahan. Sistem kapitalis yang menjadi sumber segalaa permasalahan harus diganti dengan sistem Islam. Itulah perjuangan pemuda Islam yang merupakan kontribusi hakiki bagi umat menuju kemuliaan abadi.
Baca Selanjutnya..

Minggu, 11 Oktober 2009

“Take Me Out”, Biro Jodoh Kapitalis!


Acara reality show di Indonesia diramaikan dengan program acara biro perjodohan bernama Take Me Out Indonesia. Acara ini tentang 30 perempuan berusia 20-40 tahun berstatus single. Mereka mencari pasangan. Bisa untuk suami, pacar, atau sekedar coba-coba. Di setiap episodenya, ada 7 pria single yang keluar satu demi satu untuk dipilih dan memilih para perempuan itu.
Suksesnya acara Take Me Out, memunculkan acara serupa dengan judul Take Him Out yang berisi kebalikannya. Take Him Out berisi 30 pria single dan 7 perempuan single di setiap episodenya.
Biro jodoh asal tiru...

Take Me Out adalah sebuah program televisi yang lisensinya dipegang FremantleMedia. Saat ini Take Me Out telah ditayangkan di 3 negara Eropa (Spanyol, Netherland, Denmark), menyusul UK. Dari sini aja, udah kelihatan banget nuansa asal tiru yang penting laku. Rating tinggi, iklan berdatangan, dan itu artinya banyak rupiah berdatangan. Sedangkan bagi pesertanya, lumayanlah bisa nampang di layar kaca dan ditonton oleh orang se-Indonesia raya.
Orang Indonesia memang suka sekali meniru terutama dalam hal tayangan-tayangan TV. Kalo yang ditiru baik sih, nggak masalah. Tapi kalo yang ditiru adalah hal-hal yang negatif, maka ini yang bahaya. Biro jodoh di TV ini adalah salah satu acara yang diadopsi habis dari mereka yang berbudaya sangat jauh dari kita.
Bukan masalah Timur dan Barat, tapi yang lebih urgen adalah budaya non Islam yang diadopsi habis-habisan oleh masyarakat kita yang mayoritas muslim. Lihat aja gaya berbusana para perempuan di acara itu. Bagaian “atas-bawah” terbuka semua. Hanya di bulan Ramadhan dan awal Idul Fitri aja mereka kayaknya diharusnya berpakaian yang agak tertutup. Catet lho, “agak” hehehe..
Ini dari segi gaya busana. Cara memilih pasangan, juga dilakukan secara primitif. “Kok bisa? Padahal mereka berada di panggung canggih dan modern penuh sentuhan teknologi,” mungkin itu pikirmu. Non, modern nggaknya sesuatu, itu bukan ditentukan dari penampilan fisik semata. Itu cuma artificial alias palsu. Primitif atau modern itu bisa dilihat dari bagaimana acara ini merancang 30 kandidat dalam memilih satu calon di depan.
Fisik, itu yang utama pria memilih perempuan. Meskipun yang perempuan cerdas, tapi kalo nggak cantik dan langsing jangan harap bakal terpilih. Jenis pekerjaan, itu pilihan utama perempuan dalam memilih si pria. Jabatan direktur atau pemilik sebuah perusahaan, bisa dipastikan hampir semua perempuan menyalakan lampunya agar dipilih oleh si pria tersebut.
Iman dan takwa? Boro-boro, euy. Jauh dah! Belum lagi baju pembawa acara yang bagian “atas bawah” serba terbuka. Bener-bener ajang pamer aurat tiada henti!
“Take Me Out Ramadhan”
Episode “Take Me Out Ramadhan” adalah yang paling bikin saya muak dari semua episode yang ada. Gimana nggak, kalo yang hak dan yang batil dicampur aduk jadi satu. Ibarat minum susu kecampur sama air comberan, udah gitu ada lalat ijonya. Hueks…siapa sudi?
Di acara tersebut, menghadirkan narasumber yang terkenal dengan nama Ustadz Cinta. Dia bertugas untuk terus ngasih nasihat-nasihat cintanya. Pake dalil-dalil yang terkesan maksa pula. Hmm.. mending kalo bener, yang terjadi malah jaka sembung tuh dalil alias nggak nyambung. Bagaimana mungkin seseorang yang disebut ustadz dan paham Islam bisa menjadi narasumber untuk menyampaikan dalil bagi acara umbar aurat dan jelas-jelas hedonis itu? Aha, jadi agak-agak sedikit nuduh nih (eh, bukan ding, curiga aja), jangan-jangan uang memang bisa melupakan segalanya. Mungkin dia dan manajemennya berpikir, “Nggak masalah ayat-ayat Allah dijual, yang penting doku tebal.” Naudzhubillah. Mudah-mudahan sih tidak. Tapi ya nggak tahu juga sih. Ikutan di situ aja udah menunjukkan gimana kualitas sebenarnya. Kasihan banget!
Di acara Take Me Out edisi Ramadhan, emang baju pun sudah mulai berubah bentuk. Para perempuan yang semula pada pamer sekwilda (maaf, sekitar wilayah dada) dan bupati (buka paha tinggi-tinggi) sudah mulai ditertibkan. Celana panjang atau rok menutup lutut, dengan baju atasan yang tidak boleh terlalu terbuka menghiasi Take Me Out edisi Ramadhan dan Syawal. Tapi, biarpun para peserta udah mulai sopan gaya berbusananya, ternyata pembawa acara tetap cuek-cuek aja. Pundak, leher dan dada terbuka lebar tak masalah. Begitu juga dengan rok pendek di atas lutut tetap muncul di episode demi episode. Gawat!
Islam punya jalan
Bila berani mengatakan itu buruk, pasti ada yang baik. Bila mengatakan itu batil, pasti ada yang hak alias benar. Bila mengatakan itu tidak sesuai dengan syariat Allah, pasti ada yang sesuai. Yupz…Islam nggak cuma bisa nunjukkin dan mengkritik masalah tapi juga bisa menyodorkan solusi untuk masalah tersebut.
Dalam Islam, kewajiban menikahkan anak perempuan itu adalah menjadi tugas wali atau ayah gadis tersebut. Ayah inilah yang berusaha mencari laki-laki yang baik dan shalih sebagai suami puterinya. Bila karena satu dan lain hal, wali tidak bisa melakukan kewajibannya, maka tugas negara untuk menyelesaikan permasalahan ini sesuai dengan hukum syara’.
Ayah yang baik, akan memilihkan calon suami untuk putrinya dengan memilih laki-laki yang shalih. Abu Nu’im mentakhrij di dalam al-Hilyah, 1/215, dari Tsabit al-Banaty, dia berkata: “Yazid bin Mu’awiyah menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’ untuk menikahi putrinya. Namun Abu Darda’ menolak lamarannya itu. Seseorang yang biasa bersama Yazid berkata, ‘Semoga Allah memberikan kemaslahatan kepa­damu. Apakah engkau berkenan jika aku yang menikahi putri Abu Darda’?” Yazid menjawab, “Celaka engkau. Itu adalah sesuatu yang amat mengherankan.” Temannya berkata, “Perkenan­kan aku untuk menikahinya, semoga Allah mem­berikan kemaslahatan kepadamu.” Terse­rahlah,” jawab Yazid. Ketika Abu Darda’ benar-benar menikahkan putrinya dengan temannya Yazid itu, maka tersiar komentar yang miring, bahwa Yazid menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’, tapi lamarannya ditolak. Tapi ketika ada orang lain dari golongan orang-orang yang lemah, justru Abu Darda’ menerima dan menikahkan­nya. Lalu Abu Darda’ berkata,”Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku. Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah-rumah yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya.”
Bro en Sis, menjadi wanita itu mulia lho. Bahkan seorang ayah yang memiliki anak wanita yang dididik dengan Islam hingga menikahkannya dengan lelaki shalih, insya Allah jaminannya surga, lho. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Rasulullah saw. bersabda, “Tiada seorang muslim yang memiliki tiga anak perempuan kemudian dia memberi nafkah sampai keduanya menikah atau meninggal dunia kecuali keduanya menjadi dinding baginya dari api neraka.” Seorang perempuan bertanya,”Apakah dua anak juga?” Rasul menjawab, “Atau dua anak perempuan.” (HR Thabrani)
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Barangsiapa diuji dengan anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka (anak-anak perempuan itu) menjadi benteng untuknya dari api neraka.” (HR Bukhari, Muslim)
Nah, karena saat ini kondisi umat Islam sedang berada di kemundurannya, maka sang ayah tak lagi tahu kewajibannya, apalagi negara. Dengan dikompori oleh ide feminisme, jadilah perempuan merasa bebas lepas untuk menentukan sikap termasuk dalam hal jodoh. Demi menarik lawan jenis, mereka tak segan umbar aurat. Demi mendapatkan suami tajir mereka rela merendahkan harga dirinya agar dipilih dan bisa mengalahkan saingannya.
Biro jodoh atau sebuah upaya jasa untuk mempertemukan dua anak manusia dengan tujuan pernikahan itu hal yang boleh-boleh aja dlam Islam. Yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana pelaksanaan biro jodoh itu agar sesuai dengan syariat Islam dan bukan malah menjadi pengumbar maksiat.
Rasulullah saw. memberikan rambu-rambu dalam memilih psangan: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara; (1) karena hartanya, (2) karena kebaikan keturunan atau kedudukannya, (3) karena kecantikannya, dan (4) karena afamanya. Maka beruntunglah engkau yang memilih wanita yang beragama, karena dengan demikian itu engkau akan berbahagia” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Janganlah kamu menikahi wanita kaeena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu akan menyebabkan dia sesat (membinasakannya); dan janganlah kamu menikahi wanita karena harta bendanya, mungkin hartanya itu menyebabkan ia sombong (sesat). Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, Demi Allah, perempuan budak yang hitam legam itu lebih utama apabila ia beragama (Islam)” (HR Ibnu Majah)
Berdasar rambu-rambu ini, sebuah biro jodoh yang bertanggung jawab tidak akan mengumbar identitas fisik para pesertanya dengan mudah. Visi dan misi menikah itu lebih diutamakan sebagaimana saran Rasulullah saw. di atas.
Ketika laki-laki memilih perempuan, faktor takwa adalah utama. Bukan fisik, wajah, apalagi postur tubuh. Karena sesungguhnya, anugerah fisik itu adalah given alias udah dari sononya. Manusia nggak bisa memilih untuk punya hidung seindah Katie Holmes, misalnya. Atau mata seindah Katherine Zeta Jones. Ya udah, apa yang ada disyukuri saja dengan memanfaatkannya di jalan Allah. Bukan untuk mengumbar maksiat.
Ketika perempuan memilih laki-laki pun, bukan faktor pekerjaan dan gaji yang utama. Tapi lebih kepada kualitas diri yang bakal jadi calon qowwam atau pemimpin rumah tangga. Percuma juga punya penghasilan puluhan juta rupiah per bulannya tapi nggak bisa baca al-Quran. Punya mobil mewah mengkilap menggiurkan, tapi ternyata jarang sholat wajib. Aduh…. biar cakep dan tajir, pria jenis ini mah buang ke laut aja. Nggak banget gitu lho!
Tujuan tak menghalalkan cara
Islam memang beda. Tujuan baik untuk mencarikan jodoh para pesertanya, tidak lantas membuat caranya selalu baik. Begitu juga dengan acara macam ini. Meskipun dibungkus dengan hadirnya Ustadz Cinta, tidak secara otomatis acara ini bisa dianggap sesuai dengan aturan Islam. Apalagi dengan romantic room yaitu sebuah tempat untuk berdua-duaan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang kepribadian pasangan masing-masing. Nah, berlipat-lipat deh maksiat yang ada.
Padahal jelas-jelas Rasulullah saw. bersabda (yang artinya):”Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai dengan mahram-nya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad)
Di saat ustadz cinta berbusa-busa memutarbalik ayat demi terlegalisasinya acara tersebut, apakah berani ia menyebut hadits ini? Apakah ia berani menyebut ayat 32 surat al-Israa? Oya, redaksional ayat tersebut (yang artinya): “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
So, jangan sampe tujuan baik tapi caranya salah. Nggak sekadar niat yang benar, tapi caranya juga harus benar sesuai tuntunan syariat Islam. Ok?
Sadarlah!
Sekarang saatnya bagi kamu kaum perempuan dan laki-laki yang dieskploitasi kejombloan mereka untuk sadar. Apa pun dalihnya, uang adalah tuhan para penyelenggara acara itu. Tak peduli harus dengan memanfaatkan perasaan orang lain. Dalam hal jodoh, perasaan jelas terlibat. Itu adalah komoditas yang akan memancing pemasang iklan untuk berdatangan. Uang adalah hasil akhirnya. Sangat khas kapitalisme.
Jodoh itu masalah serius, bukan main-main. Apa bisa seorang jodoh yang baik dunia-akhirat didapat dari penilaian fisik selama 10 menit? Pasti faktor nafsu yang banyak berperan di sana. Tatakrama menundukkan pandangan pada memandang sesuatu yang haram nggak berlaku sama sekali. Boro-boro bisa menundukkan pandangan, baju aja pada sengaja dibuka-buka begitu.
Seorang muslim selalu melibatkan peran serta Allah Swt. dalam setiap lengkah kehidupannya, termasuk dalam hal jodoh. Sholat istikharah mustahil bin mustahal diingat dalam momen seperti ini yang penuh dengan suasana hedonis dan pamer body serta materi. Jadi bagi kamu yang mungkin terbersit keinginan untuk ikut ajang ini, pikir-pikir lagi deh. Banyak maksiat dan kemudharatan terjadi di sana. Masa’ iya setelah penjelasan panjang lebar ini, hati dan pikirmu tidak terketuk untuk berubah? Berubah jadi yang lebih baik, paling tidak bukan malah ikut melestarikan ajang seperti ini. Setuju kan?
Gaungkan opini seperti ini di lingkunganmu, agar orang-orang juga ikutan sadar dan tak terlalu kesengsem sama acara sejenis. Nonton sih boleh-boleh aja tapi nggak perlu sampai maniak dan ketagihan. Karena ada loh ternyata orang-orang yang nggak bisa tidur kalo belum nonton Take Me Out. Walah… segitunya.
Saatnya kita buka kebobrokan kapitalisme yang sangat tidak memanusiakan manusia, termasuk menjadikan komoditi ajang perjodohan yang seharusnya sakral ini. Sudah terlalu lama dunia ini terpuruk akibat kapitalisme ini. Jadi sekarang saatnya Islam dilirik sebagai solusi tak terkecuali dalam memilih jodoh dan ajang perjodohannya. Manusia itu punya harga diri, perasaan dan keimanan. Bukan sekadar onggokan daging yang dinilai dari tampilan luar fisik yang sifatnya sangat fana. Jadi, ayo bergerak dan berdakwah! Tetap semangat ya! [ria: riafariana@yahoo.com]


Baca Selanjutnya..

Selasa, 06 Oktober 2009

Perkosaan Massal Dialami Muslim Guinea


Satu minggu setelah tindakan keras mematikan yang dilakukan oleh junta militer Guinea - mayoritas Muslim Guinea yang merupakan para pendukung kelompok oposisi, mengungkapkan kisah mengerikan yang muncul kepermukaan terkait dengan terjadinya perkosaan massal terhadap muslimah Guinea.


"Kami mendengar suara tembakan (dan) saya mencoba melarikan diri," kata seorang wanita setengah baya, yang berpartisipasi dalam demonstrasi oposisi pekan lalu di stadion Conakry, kepada The New York Times pada Selasa kemarin.

Tetapi sewaktu perempuan yang ketakutan tersebut mencoba untuk melarikan diri, ia dilarang oleh tentara.

"(Tiba-tiba) suasana sudah seperti kandang ayam."

Satu prajurit memukul kepalanya dengan senapan dan kemudian mulai pelecehan seksual padanya.

"Dia memukul saya dan merobek pakaianku. (Kemudian) dia meletakkan tangannya di dalam diriku, "kata wanita itu menangis.

PBB mengatakan 150 orang tewas dalam peristiwa kekerasan oleh junta militer Guinea, sementara Organisasi Hak Asasi Manusia Guinea menyebutkan 157 orang yang tewas.
Aktivis hak asasi manusia mengatakan mereka telah menyusun kesaksian dari sekitar 30 perempuan yang mengatakan mereka telah diperkosa selama tindakan keras aparat militer terhadap para demonstran.

"Saya berumur 57 tahun namun mereka tetap menelanjangi diriku! kata seorang wanita, menunjukkan memar di lengan dan bokongnya.

"Seorang prajurit yang memiliki pisau, merobek semua pakaianku," kenangnya, menyakitkan.

"Saya katakan kepada mereka," Aku ibumu." Mereka menyodok bokongku dengan pisau dan mereka memukulku dengan keras."

Wanita tersebut juga melihat beberapa wanita lain dipaksa ditelanjangi dan disiksa.

"Saya melihat prajurit meletakkan senjata mereka ke dalam bagian-bagian pribadi perempuan ketika mereka memukul saya."

Wanita yang trauma itu mengatakan mimpi buruk akan meninggalkan mereka dengan ketakutan psikologis untuk sepanjang hidup mereka.

"Kami trauma," kata wanita setengah baya berkata pelan, menatap ke bawah.
"Aku tidak bisa tidur di malam hari, setelah apa yang kulihat .... Dan aku takut."

Perkosaan massal telah mengejutkan semua orang di negara Afrika barat tersebut, di mana umat Islam merupakan hampir 85 persen dari 10 juta penduduk ( http://www.eramuslim.com/ Rabu, 07/10/2009 09:05 WIB )

Naudzubillahimindzalik, ini adalah bentuk penghinaan kepada kaum muslim. Dan sayangnya hal ini terus saja terjadi pada umat islam dimanapun berada. harusnya kita semakin sadar tentang kebencian yang telah tertanam dalam hati mereka hingga mau untuk melakukan apapun termasuk menghina kaum muslimah dsb asalkan tujuan mereka tercapai yaitu ketundukan kaum muslimin pada hegemoni mereka.

Sebagai umat islam harusnya kita tak boleh diam ketika melihat atau mendengar saudara-saudara kita dizalimi. kita harus bangkit !!!menerapkan Islam di muka Bumi ini. Demi kemuliaan Islam dan Kaum muslimin. Dengan penegakan KHILAFAH. ingatkah kita dengan Khalifah al-Mu’tasim Billah yang menyahut seruan seorang budak muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi, kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim billah dengan lafadz yang legendaris: waa mu'tashimaah!. Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Amoria dan melibas semua orang kafir yang ada di sana (30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 yang lain ditawan). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari istana khalifah hingga kota Amoria, karena besarnya pasukan.

Subahanallah, Betapa Islam memuliakan dan memanusiakan manusia. Islam adalah Rahmatan lil'alamin. Lalu tunggu apalagi. akankah kita masih tetap mau bertahan dengan ideologi kuffur yang menancap dinegeri2 kaum muslimin. Yang menjadikan saudara2 kita dizalimi. yang memecah belah kaum muslimin.SAATnya KITA BANGKIT!!!Dengan ISLAM!!

Baca Selanjutnya..

Minggu, 04 Oktober 2009

RAIH TAKWA SONGSONG KEMENANGAN ISLAM

MMC(Balikpapan)- pada hari Ahad(03/10) ruang sekretariat hizbut-tahrir daerah balikpapan yang berada di Jalan Manunggal RT 62 no 27 MT Haryono tampak dipenuhi oleh puluhan muslimah baik ibu-ibu maupun remaja yang antusias dalam mengikuti Open House MHTI daerah Balikpapan yang mengambil tema : Raih Takwa Songsong Kemenangan Islam. Acara ini juga dibarengi dengan acara silahturahmi (Liqo' Syawal) antara muslimah hizbut-tahrir dengan ibu-ibu Majelis Taklim, tokoh masyarakat, insan media maupun remaja yang di pandu oleh ustdzah Rayhanah selaku manajer forum beserta dengan ustadzah Zulfa Khoirun Niswah, Ustadzah Fatimah, Ustadzah Yuli, Ustadzah Juli Salsabila, Ustadzah Aisyah.

Acara ini dilakukan sebagai ajang pengikat tali ukhuwah islamiyah serta dalam rangka membangun kedekatan umat dan menjawab problem-problem umat yang disolusikan dengan islam. Ke depan agar menjadi masyarakat yang bertakwa (Taat pada aturan Allah) dan semakin paham serta menyadari pentingnya penerapan Islam di muka bumi dengan Khilafah.

Sebelum memulai diskusi, peserta disuguhi sebuah film yang menggambarkan tentang peran besar ulama dalam menerapkan islam di muka bumi ini dan betapa pentingnya penegakan hukum Allah yang akan membawa kerahmatan bagi alam semesta bukan kerusakan yang kini terjadi akibat diembannya ideologi kuffur yang bertentangan dengan hukum Allah. Acara ini tampak semakin memanas ketika banyak dari peserta yang melemparkan pertanyaan kepada Muslimah Hizbut-Tahrir. Mereka menanyakan berbagai perihal dari problematika umat, seperti gempa yang terjadi di Sumatera dan kelambanan aparat pemerintah dalam menanggapi bencana, seperti mengirimkan bantuan yang sangat dibutuhkan ketimbang mengurus pelantikan anggota DPR yang menelan dana begitu besar hingga menanyakan tentang peran HTI dengan ide islam yang dibawa dalam menyelesaikan problem umat dsb.

Tepat pada pukul 12.00 WITA diskusi berakhir karena telah memasuki waktu dzuhur dan dilanjutkan acara bermaaf-maafan antar peserta dan muslimah hizbut-tahrir. Kemudian peserta dipersilahkan untuk mengambil makan siang yang telah disediakan panitia secara prasmanan lalu sholat dzuhur.


Gambar 1.1 Ustdzah Aisyah menjawab pertanyaan dari peserta



Gambar 1.2 Seorang Ibu melempar pertanyaan kepada Muslimah Hizbut-Tahrir


Gambar 1.3 Suasana Saling bermaaf-maafan antar peserta dan muslimah Hizbut-Tahrir


Gambar 1.4 Saatnya untuk makan Siang setelah acara selesai

Baca Selanjutnya..

Sabtu, 26 September 2009

KAUST (King Abdullah University of Scince and Technology) Membolehkan percampuran Pria dan Wanita

Peresmian Universitas Saudi Dengan Biaya Miliaran, Membolehkan Pencampuran Laki-laki dan Perempuan
Situs BBC Arabic (24/9) mempublikasikan berita tentang peresmian universitas Saudi termewah. Raja Abdullah dengan dihadiri sejumlah pemimpin, raja-raja Arab dan asing pada hari Rabu di utara Jeddah, Arab Saudi meresmikan King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), yang menghabiskan biaya miliaran dolar.
Universitas ini bertujuan untuk membantu negara dalam menghadapi persaingan global di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Universitas raksasa ini menggunakan salah satu perangkat komputer tercepat di dunia.
Pihak otoritas Arab Saudi berharap keberadaan universitas ini dapat memberikan kontribusi terhadap proses reformasi secara bertahap di masyarakat Arab Saudi yang konservatif.
Biaya peralatan universitas saja mencapai satu setengah miliar dolar, termasuk perangkat berupa layar tiga dimensi.
Universitas ini membolehkan percampuran antara laki-laki dan perempuan di kampus dan di ruang kelas. Perempuan dibolehkan mengemudi mobil dalam kampus. Sementara Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar tidak akan diizinkan untuk memasuki area universitas. Para mahasiswa perempuan juga tidak akan diwajibkan untuk mengenakan kerudung.
Universitas ini terletak di pantai laut Merah Laut, 80 kilometer sebelah utara kota Jeddah, sementara bangunannya terbentang di atas tanah yang luasanya 36 kilometer persegi.
Universitas menawarkan gelar master (S2) dan doktor (S3) di sembilan disiplin ilmu, termasuk ilmu-ilmu komputer, biologi, dan teknik dalam sejumlah disiplin ilmu.
Universitas ini bertujuan agar memungkinkan bagi Arab Saudi untuk bersaing dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dan untuk mengubah Arab Saudi menjadi salah satu pusat penelitian modern di kawasan timur Tengah.
Larangan bagi wanita mengemudi mobil di Saudi Arabia telah memicu maraknya kontroversi dalam beberapa tahun terakhir. Dalam hal ini kalangan meformis menyerukan pencabutan larangan tersebut, sebaliknya kaum konservatif menhendaki larangan tersebut untuk tetap dipertahankan.
Namun, beberapa warga Arab Saudi khawatir bahwa universitas tersebut akan menjadi sebuah pulau internasional yang terisolasi dari wilayah Arab Saudi lainya.
Rektor Universitas, Profesor Shawn Wong mengatakan bahwa universitas akan memberi kebebasan penuh untuk melakukan penelitian yang langka, dan akan memberi mereka dana untuk melakukan aktivitas dalam bentuk kelompok-kelompok perempuan dan laki-laki.
Shawn yang pernah menjabat sebagai Rektor di National University of Singapore selama sembilan tahun mengatakan bahwa manajemennya sangat ingin merekrut para peneliti terbaik di dunia, dan memberikan mereka kebebasan dalam melakukan praktek penelitian ilmiah.
Universitas akan memulai dengan 817 mahasiswa dari 61 negara untuk berkuliah di universitas pada tahun akademik 2009/2010, termasuk 314 mahasiswa akan mulai perkuliahan bulan ini, dan sementara sisanya pada awal tahun 2010.
Shonw mengatakan bahwa mahasiswa akan menerima beasiswa untuk menutupi biaya kuliah dan biaya akomodasi yang besarnya sekitar 60 sampai 70 ribu dolar per tahun. Jumlah ini setara dengan biaya kuliah di universitas-universitas besar di Amerika Serikat, seperti Massachusetts Institute of Technology.
***Sesungguhnya hal paling penting yang akan disoroti oleh BBC—seperti biasanya—adalah bahwa universitas yang disiapkan ini membolehkan pencampuran antara mahasiswa laki-laki dan perempuan!!
Bahkan, seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan berhubungan erat dengan hal itu!
Mengingat besar dan meriahnya acara pembukaan universitas yang dirayakan sama seperti hari raya nasional Arab Saudi, maka hal itu membuat kami mengajukan beberapa pertanyaan, yaitu: Benarkan kemajuan teknologi akan dicapai dengan membuka sebuah universitas yang mahasiswanya dicampur, dan dibangun di tepi Laut Merah seperti ini? Lalu, bagaimana dengan universitas-universitas Saudi lainnya? Bukankah menjaga kehormatan ini lebih penting, sehingga pengembangan riset dengan sendirinya dapat dilakukan? Atau jika mahasiswanya tidak dicampur, maka apa yang dinamakan dengan kemajuan ilmu dan teknologi sulit diwujudkan?
Sesungguhnya, mewujudkan kemajuan ilmu pengetahuan membutuhkan kepada kemauan politik. Para penguasa keluarga Saud, seperti halnya penguasa Muslim lainnya telah menggadaikan kemauan negaranya kepada kaum kafir penjajah. Sementara kaum kafir penjajah sangat ingin membuat kita tergantung pada dirinya, tidak hanya dalam politik dan ekonomi saja, tetapi di bidang teknologi juga.
Sebuah Negara, seperti Arab Saudi, yang menguasai wariasan intelektual kaum Muslim dan kekayaannya—seandainya para penguasanya memiliki kemauan politik yang sesungguhnya—maka mereka akan mengalami perubahan dengan cepat secara vertikal di bidang teknik, bahkan dengan kecepatan yang sangat tinggi, bukan hanya pembentukan universitas dan pusat-pusat riset saja, tetapi juga mengembangkan teknologi itu sendiri dan intelektual Muslim yang selama ini tidak mendapatkan tempat di negeri-negeri kaum Muslim, sehingga mereka terpaksa tinggal di Barat dan memberikan pengalaman dan kemampuannya yang luar biasa bagi mereka.
Warisan intelektuan + kecerdasan + dana semuanya ada dan tersedia, namun apa yang kurang, yang kurang adalah kemauan politik yang berusaha dengan sekuat tenaga untuk membebaskan umat Islam dari penindasan kolonialisme di berbagai bidang.
Akan tetapi sangat disayangkan, bahwa Abdullah dan para penguasa yang sepertinya sama saja. Mereka itu adalah pelayan, bahkan mereka itu adalah budak bagi kaum kafir penjajah?
Ya Allah, muliakan kami dengan berdirinya negara Khilafah Rasyidah, yang memiliki kemauan Islam sejati, yang akan memanfaatkan semua potensi umat Islam, untuk mengangkatnya, memajukannya, dan mengembalikannya ke posisi prestisius di antara bangsa-bangsa lain, seperti yang dulu pernah dicapainya dan bertahan dalam waktu yang lama!! (al-aqsa.org, 24/9/2009)


Baca Selanjutnya..

Selasa, 22 September 2009

Kembali Fitri ? Maksudnya ?....

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah): (tetaplah atas) fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yg lurus: tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. “ (QS. 30:30)

Dalam banyak ucapan lebaran, kata-kata "kembali fitrah" sering diselipkan sebagai do'a bagi kita. Banyak yang memaksudkan kalimat "kembali fitrah" sebagai harapan agar saldo-dosa kita di-reset ke zero, sehingga kita Lahir suci kembali seperti layaknya bayi yang baru dilahirkan. Benarkah konsep tersebut ?



Konsep tersebut benar asal dipahami dengan benar. Pemahaman yang keliru terhadap konsep tersebut, bisa berbahaya. Mengapa ? Allah berfirman bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita menjadi bertaqwa (QS AlBaqarah : 183). Menurut imam Ghazali, makna taqwa adalah melakukan sesuatu itu dengan sangat hati-hati seperti hati-hatinya orang yang berjalan di atas jembatan yang sempit yang terbuat dari kayu yang rapuh. Bisa kita bayangkan, bagaimana bila kita berjalan di atas jembatan dengan kondisi seperti itu.. pasti akan sangat hati-hati, bukan ?

Ya, orang yang bertaqwa, maka dalam bertingkah laku akan sangat berhati-hati, tidak akan menganggap enteng atau sembrono. Semakin taqwa, akan semakin berhati-hati lagi dalam berbuat, khawatir dan takut apa yang dilakukannya tidak menyenangkan Allah dan RasulNya. Karena sejatinya, itulah tugas manusia di dunia ini : Menyenangkan Allah dan Rasul-Nya, "what else ? "

Perbedaan mendasar dalam memahami konsep "kembali fitri", memberikan implikasinya yang sangat berbeda pada kita. Coba lihat perbedaannya, sbb :

Pemahaman pertama, di mana penghapusan dosa atau re-setting saldo dosa kita ke zero membuat kita jadi merasa enteng untuk mengulang dosa-dosa kita setelah ramadhan usai. "Toh saldo dosa kita sudah kecil (zero)", mungkin pemikiran seperti itu menghinggapi benak kita... sehingga sepanjang tahun berikutnya kita boleh melakukan lagi dosa-dosa yang sama, dengan harapan dapat di-reset lagi di ramadhan berikutnya.

Bila mentalitas seperti di atas yang ada di benak-benak kita, kita wajib khawatir bahwa puasa-puasa kita ini tidak sepenuhnya sukses untuk meraih taqwa.

Pemahaman kedua, kembalinya kita ke "fitri(fitrah)" itu adalah sesuatu yang harus dipertahankan (bahkan ditingkatkan). Sehingga, kalau toh saldo dosa kita direset ke zero, maka harus dipertahankan untuk tetap zero. Bahkan, setelah melalui ramadhan sebagai ajang latihan untuk diri kita, mentalitas kita menjadi lebih baik lagi, lebih taqwa, lebih hati-hati dalam bertindak dan berbuat, sehati-hati orang yang berjalan di atas jembatan sempit dan rapuh sebagaimana digambarkan oleh Imam Ghazali di atas.

Dengan mentalitas yang ini lah, kita bisa meraih sukses selepas ramadhan.. Satu kali ramadhan, meningkat satu kelas ketaqwaan kita.. dua kali ramadhan, meningkat lagi.. dan seterusnya.. Inilah orang-orang yang sukses dan beruntung dan mendapatkan manfaat dari Ramadhan, insya Allah.

Bagaimana fenomena di masyarakat tentang "kembali fitri"

Harus diakui, dari fenomena yang kita lihat saat ini, konsep "kembali fitri" yang dipahami masyarakat masih banyak yang keliru. Pada umumnya masyarakat meredakan maksiat dan bertobat di Ramadhan, mengharap untuk kembali fitri, namun mengulang lagi kebiasaan lama (kemaksiatan) saat memasuki syawal dan bulan-bulan berikutnya. Bisa dilihat, tempat-tempat hiburan yang ditutup semasa Ramadhan mulai menggeliat lagi, artis-artis yang lebih sopan dan tertutup semasa Ramadhan, mulai luntur lagi (kesponanannya).. dan banyak contoh2 lain yang kita lihat di media maupun di masyarakat secara langsung.

Bagaimana dengan anak-anak kita, adik-adik kita, teman-teman kita, saudara-saudara kita atau bahkan kita sendiri ? Masyarakat di mana kita berada memberi pengaruh besar pada kita semua.. mampukah kita kembali fitri dengan sebenar-benarnya ?

Sesungguhnya, dalam kondisi seperti ini, pilihan kita hanya dua : mempengaruhi atau dipengaruhi, menjadi subject atau menjadi object. Kalau tidak mau terpengaruh, kita harus memilih untuk menjadi subject, dan mempengaruhi lingkungan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan dakwah ila al Khoyr (Islam),mengajak kepada kebaikan (Islam). Kita dakwahi orang-orang sekitar kita, keluarga, saudara, tetangga, teman-teman dan masyarakat, sehingga terbentuk lingkungan yang kondusif dan nyaman agar kita semua bisa smoothly kembali fitri, dan menggapai sukses yang dijanjikan Allah SWT.

Taqabalallahu minna wa minkum, Shiyamanna wa shiyamakum, Taqabal yaa Kariim. Minal Aidzin wal Fa'idzin.. Mohon maaf lahir dan bathin.. Semoga kita semua kembali fitri, dengan sebenar-benarnya, amiin.

Baca Selanjutnya..

Kamis, 17 September 2009

Liberalisasi Industri Farmasi Awas, Asing Mengepung Kita!



inilah.com, Jakarta- Seiring kencangnya hembusan angin liberalisasi, pasar domestik bakal terus kebanjiran produk asing. Menyusul dominasi produk makanan dan minuman, produk-produk farmasi asing pun diprediksi segera mengepung konsumen tanah air.
Itu semua dipicu kebijakan pemerintah yang bakal mengeluarkan industri farmasi dari Daftar Negatif Investasi (DNI), sehingga produsen asing diizinkan menguasai 100% saham industri farmasi.
Selama ini, berdasarkan Perpres No. 111/2007, asing hanya boleh menguasai saham industri farmasi hingga 75%. Itu pun dengan ketentuan yang sangat ketat. Bila kelak liberalisasi industri farmasi sudah berjalan, bisa dibayangkan betapa sulitnya posisi perusahaan-perusahaan farmasi nasional ikut bersaing.
Apalagi kekuatan modal perusahaan asing jelas jauh lebih kuat. Itu sebabnya Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI), Arel St. S. Iskandar, meminta pemerintah membuat peraturan lain untuk melindungi kelangsungan perusahaan farmasi lokal.
Saat ini di Indonesia terdapat 100 pabrik farmasi lokal dan 35 perusahaan farmasi asing. Namun diperkirakan hanya 10-15 pabrik farmasi lokal yang akan sanggup bersaing dengan perusahaan farmasi asing. Maka tak aneh jika muncul nada pesimistis akan kemampuan perusahaan lokal menandingi pemodal asing.
Peran asing di Indonesia memang tidak bisa dianggap enteng. Pasalnya, separuh pangsa pasar obat nasional kini telah dikuasai asing. Kalau ditambah dengan 10 perusahaan lokal berskala besar, hampir 80% pasar obat dikuasai oleh sekitar 45 perusahaan farmasi asing dan lokal.
Artinya, sekitar 90 perusahaan farmasi lokal harus memperebutkan 20% pasar obat nasional. Persaingan ini bakal kian ketat dengan dicoretnya industri farmasi dari DNI. Maka, wajar jika era liberalisasi dianggap sebagai ancaman bagi farmasi lokal.
Meskipun begitu, tak semua kalangan memandang liberalisasi industri farmasi sebagai ancaman. Sebab, kendati dibuka 100%, pemodal asing diwajibkan membuka pabriknya di Indonesia. Dengan pasar yang relatif kecil, mereka akan berpikir dua kali sebelum menanamkan modalnya di Indonesia. Mereka tampaknya lebih senang sebagai pedagang besar farmasi (PBF). (Inilah.com, 12/9/2009)
Baca Selanjutnya..

UU Kesehatan Reproduksi Remaja Legalkan Seks Bebas

Jakarta - UU Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) sekilas tampak menjadi sesuatu yang sangat diperlukan. Tapi, terdapat bahaya besar yang mengancam remaja saat ini dalam KRR. Ada agenda terselubung atau kepentingan penguasa menjalankan KRR.

Tahun 1994, ICPD (International Conference Population Development) mewajibkan peserta konferensi menerapkan KRR di negaranya masing-masing. ICPD berdalih penerapan KRR demi mencegah terjadinya seks bebas karena tahun 1992 tercatat pelaku seks pra nihak 10-31%.

Namun, hingga kini, 15 tahun setelah ICPD, pelaku seks pra nikah naik menjadi 62,7%. Ada apa dengan KRR?


Perlu dicermati, bahwasanya isi dari KRR secara garis besar memuat tentang perubahan fisik dan psikis remaja. Bagaimana proses reproduksi terjadi. Kehamilan dan cara pencegahan kehamilan tidak diinginkan. Aborsi 'aman'. Homo dan lesbi harus diakui sebagai identitas seksual. Seks bebas yang 'aman' dan info tentang berbagai penyakit menular (Budiharsana,2002).

Soal seks bebas 'aman', ada konsep abstinence yaitu menahan diri untuk tidak melakukan seks bebas, be aithful yaitu setia pada pasangan, kondom. Atau bisa diartikan "jika ingin sehat jangan ng-seks, kalo mau ngeseks sama pasangan setia aja, kalo ga kuat pake kondom".

Hakikatnya, UU ini hanya menjadi alat untuk melegalkan seks bebas. Sesungguhnya, bagaimana mengentaskan seks bebas harus dilihat dari akar masalahnya. Remaja melakukan seks bukan karena tidak mengetahui KRR. Tetapi, lebih karena faktor eksternal. Pergaulan bebas, tontonan yang banyak menimbulkan syahwat, sekulerisme.

Lalu, untuk mengentaskan itu semua tentu saja tidak bisa dengan solusi yang pragmatis. Tapi, harus secara menyeluruh. Islam sebagai sebuah aturan hidup memiliki aturan tentang pergaulan antara pria dan wanita. Aturan ini tidak mengekang dan tidak pula membebaskan.

Tetapi, sesuai dengan fitrah manusian yang telah diciptakan Allah SWT. Tentu penerapan sistem pergaulan islam tidak bisa dilakukan tanpa adanya peran sebuah negara yang memiliki aturan islam yaitu daulah khilafah islamiyah.

posted by rahma
Baca Selanjutnya..

Senin, 14 September 2009

MUSLIMAH BERPOLITIK HARUSKAH?

Wanita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Sebab Allah SWT telah menciptakan manusia dalam dua jenis yaitu pria dan wanita, untik hidup bersama dalam suatu masyarakat. Keduanya diberikan potensi yang sama dari sisi insaniahnya, berupa potensi aqal, naluri dan kebutuhan jasmani. Adanya potensi inilah yang mendorong keduanya untuk terjun ke dalam kancah kehidupan secara bersama-sama. Lebih dari itu, keduanya diciptakan oleh Allah SWT tiada lain untuk saling tolong menolong (ta’awun) dalam menuelesaikan urusan atau persoalan bersama diantara mereka. Sebagaimana Firman Allah SET dalam QS. At Taubah: 71.
“ Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian menjadi penolong bagi sebaian yang lain”.
Demikianlah allah telah menjadikan keduanya hidup bersama dalam suatu masyarakat.


MUSLIMAH BERPOLITIK, YES!
Ketika manusia hidup bersama dalam suatu masyarakat, tentu saja tidak terlepas dari adanya persoalan-persoalan bersama yang muncul dalam kehidupan mereka. Hal ini mengharuskan bagi setiap anggota masyarakat untuk turut berperan serta menyelesaikannya. Lebih-lebih lagi jika persoalan tersebut menyangkut urusan umat (orang banyak). Baik pria maupun wanita tidak dapat berlepas tangan. Demikitan seharusnya sikap setiap muslim dan muslimah terhadap persoalan-peersoalan umat yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kaum muslimin. Seluruh kaum muslimin sama-sama bertangggung jawab terhadap keberlangsungan hidup mereka agar senantiasa berada dalam “pola tertentu” berdasarkan tuntutan Kholiqnya, Allah SWT. Oleh karena itu siapapun termasuk muslimah tidak boleh menutup mata atau tak peduli terhadap persoalan yang terjadi di tengah-tengah umat Islam. Demikian pula terhadap persoalan kaumnya, sebagai bagian dari umat (masyarakat).
Firman Allah SWT, dalam Al Qur’an surat Ali Imran: 104
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yyang menyeru kepada kebaikan (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
Sabda Rasulullah Saw, dari Hudzaifah ra.:
“barang siapa yang tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk di antara mereka, dan barang siapa yang tidak berada di waktu pagi dan petang selaku pemberi nasehat bagi Allah dan RasulNya, bagi kitab-Nya, bagi pemimpinnya dan bagi umumnya kaum muslimin,maka ia bukanlah termasuk di antara mereka.” (HR. Ath Thabrany)
Dua nash diatas menjelaskan bahwa perintah Allah dan Rasul-Nya untuk melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar serta memperhatikan (memikirkan) urusan kaum muslimin merupakan kewajiban yang ditujukan kepada seluruh kaum muslimin, tanpa kecuali (pria dan wanita). Hal ini dilihat dari umumnya lafadz yang terdapat pada kedua nash tersebut. Pada nash pertama terdapat lafadz ummat (segolongan umat) dan nash kedua terdapat lafadz (barang siapa). Kedua lafadz ini menunjukkan bahwa perintah untuk melakukan aktivitas yang terkandung dalam dua nash tersebut berlaku bagi pria dan wanita.
Ketika perintah Allah dan RasulNya ditujukan kepada kaum muslimin (seluruhnya), maka dapat dipastikan bahwa seluruh kaum muslimin, pria maupun wanita, sanggup untuk melaksanakannya. Sebab Allah SwT tidak akan membebani hamba-Nya diluar kemampuannya, sebagaimana janji Allah SWT dalam Al Baqarah: 286
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala darikebjikan yang diusahakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya”.
Pada hakikatnya ketika kaum muslimin berupaya memfungsikan segenap potensi insaniahnya untuk turut menyelesaikan persoalan umat, maka pada saat itulah tampak keterlibatannya dalam mengurus kepentingan umat. Sebagaimana yang disebutkan dalam nash diatas. Mengurusi urusan umat, termasuk di dalamnya memperjuangkan agar upaya pemeliharaan umat bias terlaksana sebagaimana mestinya adalah aktivitas politik. Ini bukanlah suatu hal yang diragukan, melainkan sudah merupakan suatu perkara yang sangat jelas. Sampai disini, apalagi alas an sekelompok orang yang ingin mendiskreditkan Islam untuk menuduh bahwa Islam tidak member peluang kepada perempuan unttuk berpolitk? Dan selanjutnya menuduh bahwa Islam mendiskreditkan perempuan? Dengan demikian berarti Islam telah mewajibkan kepada pria dan wanita untuk melaksanakan aktivitas politik ini.
Mengapa Muslimah berpolitik
Aktifitas poloitik telah jelas menjadi kewajiban seluruh kaumm muslimin. Hanya saja perlu diketahui bahwa aktivitas politik bagi muslimah bukan berarti merupakan upaya untuk menjadikan wanita memiliki posisi atau kedudukan yang tinggi dlam suatu jabatan, bukan pula untuk memperoleh gelar bnagsawan. Sehingga ketika muslimah berpolitik, ia harus menyadari bahwa aktivitas tersebut merupakan bagian dari kewajibannya yang dating dari Allah SWT. Ia pun harus menyadari pula bahwa politik yang ia lakukan tiada lain adalah sebagai upaya turutmemikirkan dan menyelesaikan persoalan umat. Di samping itu muslimahjuga harus menyadari bahwa Islam sangat menjaga kemuliaan dan ketinggian martabat (izzah) wanita. Oleh karena itu ketika ia melaksankan aktivitas politik, ia pun harus memperhatikan aturan-aturan lainnya. Baik itu aturan umum maupun aturan khusus (untuk wanita). Sebab kehormatan dan kemuliaan wanita akan terjaga lewat pelaksanaan seperangkat hokum yang elah ditetapkan untuknya. Dan ini merupakan jaminan yang pasti.
Aturan yang dating dari Al- Kholiq (Sang Pencipta) tentu saja merupakan aturan yang sesuai dengan fitrah manusia, member kepuasan pada aqal manusia dan member ketengan hati, karena Allah lah yang lebih mengetahui hakekat makhluq-Nya. Sehingga kalau Allah SWT telah menetapkan bagaimana seharusnya wanita beraktivitas politik, maka sudah pasti tidak akan mrendahkan derajat dan martabat wanita. Oleh karena itu bila ada batasan-batasan tertentu bagi wantia dalam menjalankan kewajibannya, bukan berarti hal itu menghalangi wanita tersebut berperan. Apalagi kalau dikatakan merendahkan wanita. Sama sekali tidak. Hal itu semata-mata untuk mengatur percaturan kehidupan wantia dalam suatu komunitas masyarakat demi kebahagiaan dan keselamatannya di dunia dan akhirat.
Misalnya, adanya larangan wanita menduduki jabatan penguasa (penentu kebijakan). Hal ini harus difahami oleh muslimah sebagai suatu kekhususan bagi wanita, dan tidak ada sama sekali tendensi untuk merendahkan derajat wanita. Allah telah menjanjikan bahwa pada dasarnya manusia itu sama di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaannya. Sehingga yang diukur di hadapan Allah SET adalah sampai sejauh mana tingkat ketaatan manusia memfungsikan potensi insaniahnya, yakni aqal, naluri dan kebutuhan jasmaninya untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu setiap muslimah harus menyadari secara penuh bahwa yang terpenting adalah senantiasa mengupayakan dirinya utnuk menempati peran yang terbaik dalam rangka mencapai kemuliaan di sisi Allah. Dan yang lebih mengetahui posisi peran yang terbaik adalah Allah, sehingga tiada lain yang harus dilakukan wanita kecuali melaksanakan perintah dan laranganNya. Eraktivitas politik merupakan pelaksanaan perintah Allah, sehingga aktivitas ini merupakan salah satu upaya untuk mencapai kemuliaan di sisi Allah SWT.
Upaya Muslimah Berpolitik
Kalau diteliti lebih jauh lagi, sebenarnya persoalan-persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat tidak lepas dari kondisi system yang ada. Karena masyarakat bukanhanya sekedar kumpulan individu semata. Akan tetapi lebih dari itu, masyarakat terdiri dari 4 unsur yaitu individu-individu yang senantiasa berinterksi, serta pemikiran, perasaandanaturan yang sama (yang mengatur interaksi tersebut). Dengan demikian persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat erat kaitannya dengan dengan system dimana mereka tinggal. Dalam hal ini tentu saja tidak terlepas dari ‘visi’ para penentu kebijakan yang ada.
Penguasa (penentu kebijakan) adalah orang yang memiliki tanggung jawab untuk menentukan kebijakan demi terlaksananya upaya pengaturan urusan umat sebagaimana mestinya. Sebab umat telah menyerahkan semua urusan mereka kepada penguasa melalui bai’at. Sehingga apabila penguasa melakukan kezhokiman terhadap umat (rkayat) maka umat memiliki hak dan kewajiban utnuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa. Sebagaimana Firman Allah SWAT dalam Fushilat:33.
“Siapakan yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata, sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim”.
Juga sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan lisan, dan apabila tidak mampu maka rubahlah dengan hati, walau itu merupakanselemah-lemah iman.(HR. Muslim)
“Jihad yang terbaik ialah berkata tentang kebenaran kepada penguasa yang dzalim.”
Pemerintah dalam ayat dan hadits tersebut diatas, bersifat umum ditujukan kepada seluruh kaum muslimin baik pria maupun wanita. Maka apabila Nampak adanya kemungkaran di tengah-tengah masyarakat, wajib bagi pria maupun wanita muslim untuk mencegahnya, sesuai dengan kemampuan. Termasuk aktivitas amar ma’rufnahi mungkar terhadap penguasa dzalim dalam rangka mengingatkan agar penguasa tidak melepaskan tanggung jawabnya dalam mengatur urusan umat sebagimana mestinya.
Peran muslimah dalam aktivitas politik ini tidak dibatsi oleh waktu, tempat maupun kondisi. Karena seruan untuk beraktivitas politik ini tidak akan diubah oleh waktu, tempat maupun kondisi ini sebagaimana shalat fardhu yant tidak akan pernah berubah oleh waktu, tempat maupun kondisi. Sehingga ketika seseorang telah memasuki fase keluarga, maka tidak ada alas an yang dibolehkan syara’. Bahkan kedua pasangan suami istri sama-sama memiliki tanggung jawab dalam hal ini. Oleh karena itu keduanya harus senantiasa salaing mendukung agar kewajiban ini terlaksana dengan baik.
Terpeliharanya urusan umat sebagaimana mestinya sangat tergantung kepada optimalisasi peran seluruh kaum muslimin, baik pria mapun wanita, termasuk kedua pasangan suami-istri. Dengan demikian kerja sama keduanya (pria-wanita, suami-istri) sangat penting untuk merealisasikan pperan masing-masing.
Optimalisasi peran masing-masing akan terwujud, jika keduanya memahami betul tugas dan tanggung jawab, serta hak dan kewajiban masing-masing, termasuk kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar ini. Sebab, bila keduanya memiliki pemahaman yang kuat dan mapan terhadap hak dan kewajiban masing-masing, keduanya bias bekerja sama mencari jalan keluar bagi setiap persoalan yang menghambat realisasi peran masing-masing.
Pria dan wanita, suami dan istri merupakan sahabat dan mitra dalam kehidupan ini, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat. Termasuk mitra dalam aktivitas da’wak dan politik. Oleh karena itu keduanya harus saling mendukunng dan saling mengontrol demi terealisasinya peran masing-masing dalam da’wah dan politik.
Bila ditelaah lebih jauh lagi, jumlah wanita saat ini cenderung lebih besar dari jumlah pria. Maka apabila wanitanya baik, dan perannya terealisasi secara optimal sudah pasti akan member kontribusiyang sangat besar dalam perbaikan status umat menuju ”umat terbaik”. Dengan demikian sudah seharusnya para wanita memahami betul tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang muslimah, baik tugas sebagai hamba Allah, tugas dalam keluarga maupun tugas dalam kehidupan bermasyarakat (diantaranya adalah amar ma’ruf nahi mungkar). Wanita yang memahami tugas dan kewajiban inilah yang dikatakan wanita sholihah. Dan wanita yang demikian pulalah yang akan mempu melahirkan generasi-generasi pejuann Islam (mujahid), yang siap untuk memperjuangkan kemuliaan Islam, dan siap utnuk terjun dalam arena politik untuk mengurusi urusan umatnyasesuai dengan ketentuan Kholiqnya, termasuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.
Dengan demikian, tidak dapat dielakkan lagi bahwa terjun/terlibat dalam aktivitas politik wajib bagi setiap muslim, baik pria maupun wanita.Untuk itu masih adakah alas an bagi para muslimah untuk tidak mengoptimalkan potensi dan kemampuannya demi merealisasikan kemuliaan umatnya? Demi meraih kemuliaan dan ketinggian derajatnya di hadapan Kholiqnya?

By Endang Sri Indah Rahmawati, M.Pd
Baca Selanjutnya..

Senin, 31 Agustus 2009

Malaysia, Indonesia : Jangan bertengkar ...

Malaysia dan Indonesia,Kok makin ribut aja sih...

Makin lama, keributan kalian makin tak terkendali. Bila kemarin lagu Indonesia Raya dipleset-plesetkan oleh Malaysia, hari ini 100 situs Malaysia di"hack" oleh Indonesia...

Tahukah kalian, bahwa kalian dahulunya bersatu? Tadinya kan kalian bersatu, di bawah naungan khilafah Islamiyah. Temanku bilang, Belanda dan Inggris lah yang menjadikan kalian berpisah.., menjadi "Indonesia" dan "Malaysia". Kenapa sekarang tidak berusaha untuk bersatu lagi saja ?


Bayangkan, kalau bersatu, kalian akan kuat.. ngga akan terjadi yang namanya rebutan pulau karena kita akan bangun pulau itu bersama.. apa lagi rebutan tari-tarian dan lagu.. oooo please deh..menghabis2kan energi aja.. Masalah orang-orang yang disiksa.. itu kan bukan budaya kita. Kita bisa bereskan bersama-sama. Juga orang-orang yang katanya menteror, kita kejar sama-sama. Masalah plesetan lagu kebangsaan itu, tentunya kalau kita bersatu tidak akan ada lagi, bukan ? Banyak yang bisa selesai, kalau kita bersatu..Sudah, jangan ribut lah. Kalau tetap ribut, nanti tiba-tiba ada "saudara tua" yang berdiri di selat yang kebetulan ada di antara kalian berdua (Selat Malaka). Alasannya : menjaga keamanan 'gitu loh...Atau jangan-jangan... memang ada yang sengaja memancing kalian untuk ribut2.. supaya punya alasan berdiri di antara kalian berdua.. sudah lama kan ada pihak-pihak yang ingin membangun pangkalan militer di daerah selat malaka itu ? Oooppsss.... Masya Allah...Makanya, jangan terpancing.. Yo mari bersatu.. Kita umat Islam harus bersatu, karena sesungguhnya Allah telah mempersatukan kita dalam Islam. Bukan hanya kalian, Malaysia dan Indonesia, tapi juga seluruh negeri-negeri muslim di dunia. Ayo kita kembalikan kesatuan umat, sebagaimana masa kekhilafahan dahulu. Dengan bersatunya umat, tidak akan ada lagi yang berani mempermain-mainkan kita, kaum muslimin, dengan seenaknya..So, berhentilah bertengkar. Mending gunakan energi untuk mempersatukan umat dan membangun kekuatan umat, sehingga tak ada lagi yang berani mengusik keamanan kaum muslimin dan menginjak-injak martabat kaum muslimin.. seperti yang saat ini masih terjadi pada saudara-saudara kita di Palestina, Afghanistan, Iraq, Uzbekistan, dan di belahan dunia lainnya... Sekali lagi, mari berhenti bertengkar.Semoga kalian mendengar...
Baca Selanjutnya..

Senin, 17 Agustus 2009

Mahkota dan Terompah

Perhelatan kontes Ratu Sejagat atau yang lebih dikenal dengan Miss Universe kembali digelar. Seperti biasa, kali ini Indonesia pun tak mau kalah dengan negara lain untuk turut mengirimkan wakilnya, Zivanna Letisha Siregar. Kontes kecantikan ini diikuti tidak kurang dari 84 negara. Setiap tahunnya para wanita yang dianggap tercantik dari tiap negara partisipan akan didaulat menjadi yang paling cantik sejagat. Mereka juga akan menjalankan misi sebagai “duta” bagi berbagai kepentingan pihak sponsor dan penyelenggara.

Miss Universe selalu menarik untuk diperbincangkan, setidaknya atas tiga hal. Pertama, antusiasme para wanita untuk berpartisipasi di dalamnya dan berharap besar untuk menang. Kedua, persyaratan yang harus dipenuhi kontestan selama proses penilaian berlangsung. Ketiga, berkaitan dengan imej atau citra seseorang ketika berhasil merebut mahkota sebagai yang tercantik dengan titel “Miss Universe”.

Pada awalnya Miss Universe tidak lebih dari upaya promosi produk pakaian renang, Catalina. Adalah Pasific Mills yang melangsungkan kontes kecantikan ini untuk pertama kalinya pada tahun 1952. Kemudian pada tahun 1996, seorang pengusaha bernama Donald Trump membeli hak kepemilikan kontes ini untuk ditayangkan pada jaringan televisi CBS. Pada tahun 2003 hak siar pelaksanaan Miss Universe beralih ke jaringan NBC.

Meski awalnya hanya sebatas cara untuk mempromosikan produk pakaian renang, ternyata pengaruh penyelenggaraan Miss Universe cukup memberikan dampak yang luar biasa. Cakupan partisipasi kian meluas tak hanya berkisar benua Amerika dan Eropa. Bahkan, wilayah Asia, termasuk Indonesia di dalamnya, mulai melirik untuk bergabung. Indonesia sendiri sempat vakum dalam kontes kecantikan ini pada tahun 1996 sampai 2004 perihal pemakaian pakaian renang. Namun akhirnya Indonesia melanjutkan kembali keikutsertaannya pada tahun 2005 dengan mengirimkan Artika Sari Devi. Setelah itu, kontes-kontes serupa di tanah air bermunculan dengan satu semangat yang sama,syukur bisa menjadi yang tercantik se-Indonesia, apalagi sejagat. Meskipun tidak semua kontestan Miss Universe dari Indonesia adalah seorang Muslimah, tetapi wajarkah bila mereka sampai mengikutinya?

Tidaklah mudah menjadi seorang Miss Universe. Selain melalui proses seleksi yang lumayan ketat, seseorang setidaknya harus memiliki apa yang disebut dengan 3B, yakni Brain, Beauty and Behaviour alias kecerdasan, kecantikan dan kesopanan. Memang ketiga kriteria ini seolah ingin memunculkan sosok wanita sempurna. Meski demikian, tak surut juga minat para wanita yang merasa cukup percaya diri bahwa ketiganya ada dalam diri mereka. Kriteria inilah yang nantinya akan menjelma menjadi beberapa macam “sesi penilaian” yang mengharuskan tiap peserta untuk mengumbar bagian tubuhnya. Untuk contoh yang satu ini bisa dilihat pada sesi pemotretan dengan busana renang. Semakin terbuka semakin tinggi nilainya, mungkin seperti itu gambaran yang ada di benak para kontestan. Berbekal niat tunggal untuk menang, mereka berlomba memamerkan tubuhnya se-sensual mungkin sehingga mampu membuat takjub para dewan juri. Tentunya kita tidak akan membahas para pelaku sesi pemotretan itu yang tidak terikat dengan hukum syara’. Tetapi bagi mereka yang mengaku dirinya sebagai seorang Muslimah, wajarkah bila ikut serta di dalamnya?

Pergelaran Miss Universe juga berusaha untuk membangun imej “positif” bagi pemenangnya. Imej ini ditonjolkan saat sang ratu didaulat untuk menjadi duta ataupun ikon dari sponsor. Terlebih lagi beberapa fasilitas, kemudahan serta materi yang tidak sedikit pastinya cukup menggiurkan bagi siapapun yang memang semata-mata mengejar dunia. Dalam salah satu hadits dikatakan, Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengharapkan akhirat, Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya dan menghimpun seluruh urusannya untuknya, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Adapun siapa yang mengharapkan dunia, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya dan menceraiberaikan urusannya , serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan baginya”. Sekali lagi, wajarkah seorang yang mengaku Muslimah ikut serta di dalamnya?

Islam adalah sebuah aturan kehidupan yang sempurna. Kesempurnannya meliputi fikrah maupun thariqah. Tidak hanya sebatas pemikiran belaka tetapi berkahnya justru muncul ketika ia diterapkan. Seperti halnya pengaturan Islam terhadap wanita. Secara fikrah, Islam memuliakan wanita melalui kewajiban menutup aurat dengan kerudung dan jilbab (QS. An-Nur:31, QS.Al-Ahzab:59). Islam juga menjaga kehormatannya dengan mengatur hubungan antara wanita dengan lelaki yang bukan mahramnya (QS.An-Nur:31, QS.Al-Isra;32). Kondisi ini akan menjadikan martabat wanita menjadi terjaga dan tidak malah ter-eskploitasi, seperti halnya mereka yang mengikuti ajang Miss Universe. Masalahnya, apakah para kontestan tersebut merasa dirinya menjadi objek eksploitasi atau tidak. Perasaan tentang apakah amal yang yang dilakukan seseorang telah atau bahkan menyimpang dari aturan Islam memang akhirnya kembali pada kekuatan seseorang memegang aqidahnya. Tidak hanya sebatas menerima sebatas sebuah dogma dalam hidup tapi juga meyakini bahwa aqidah tersebut adalah solusi atas setiap problematika kehidupannya. Inilah yang disebut dengan mabda’ atau ideologi.

Seorang Muslim sepantasnya meletakkan seluruh kepatuhannya pada aturan Islam, bukan pada yang lain. Perasaan akan baik dan buruk, terpuji dan tercela senantiasa dikaitkan dengan hukum syara’ (QS.Al-Hasyr:7, An-Nisa:65, QS.Al-An’am:57). Begitupun saat ingin mengetahui apakah sesuatu itu memang ditujukan untuk mengangkat derajatnya atau justru menghinakannya. Disinilah ironi perasaan manusia yang lemah dan terbatas (QS.Al-Baqarah:216). Seringkali para wanita merasa bangga karena dirinya berhasil terpilih sebagai yang tercantik diantara yang lain melalui ajang kontes kecantikan. Padahal yang terjadi ia justru sedang dihinakan dan menghinakan dirinya sendiri, dengan menampakkan sesuatu yang diperintahkan Allah untuk dijaga kehormatannya.

Betapa hebatnya sebuah sistem ketika diterapkan di tengah sebuah masyarakat. Kapitalisme yang akrab dengan nuansa liberalisme telah menjadikan setiap sendi kehidupan kita mengerucut pada hedonisme. Bahkan eksploitasi wanita dengan kedok kontes kecantikan justru dijadikan sebagai barometer idealitas seorang wanita. Dengan cukup berbekal Brain, Beauty and Behaviour ditambah penyematan sebuah mahkota maka sempurnalah sang empunya. Masih terasa wajarkah bila seorang Muslimah mengikutinya? Setidaknya ada sebuah hadits yang bisa dijadikan sebagai sebuah bahan renungan. Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir ra. , Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya azab yang paling ringan dari penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang diletakkan pada kedua telapak kakinya terompah dari api neraka yang menyebabkan otaknya mendidih” (Mutafaq ‘alaih). Ternyata sebuah mahkota di dunia harus dibayar mahal di akhirat, sepasang terompah dari api neraka, Naudzubillah..

by Adiba

Baca Selanjutnya..

Jumat, 14 Agustus 2009

Di Rusia Wanita Bisa Menyewa “Suami”

Nah terbukti khan...wanita tidak bisa melakukan semuanya sendiri..
Tapi kok tetap ngotot memperjuangkan kesetaraan dengan laki-laki?
your comment please ?

****************

Karena terkena PHK akibat beban krisis finansial, pekerjaan menjadi “suami” sewaan pun dilakoni pria Rusia



Para wanita di Rusia tidak lagi bingung jika suami mereka tidak ada di rumah untuk membantu melakukan beberapa pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sendiri. Sekarang mereka bisa menyewa “suami” dengan hitungan sewa per jam.

Suami sewaan itu dibayar untuk melakukan pekerjaan seperti memperbaiki rak hingga mengganti kunci. Bisnis yang pertama kali muncul di kota St. Petersburg ini sepertinya akan menjadi primadona di Rusia karena ternyata cukup menguntungkan.

"Sebagian wanita ternyata tidak bisa mengganti bola lampu," kata Alexander Yakolev yang memimpin sebuah kantor penyewaan suami. "Sekarang ini saya memiliki 50 orang pria yang bisa melakukan pekerjaan semacam itu."

Bagi Boris Ivanov, pria yang kehilangan pekerjaan sebagai manajer di sebuah penerbitan karena krisis keuangan, bekerja sebagai suami sewaan merupakan cara yang baik untuk memperoleh pendapatan.

"Mereka hanya menginginkan seorang laki-laki yang tidak keberatan melakukan pekerjaan kecil di rumah tangga. Bayarannya lumayan dan bisa memberikan pendapatan yang stabil."

Para pengusaha suami sewaan awalnya membidik pasar wanita lajang, tapi ternyata pelanggan mereka tidak sedikit yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga.

"Suami saya senantiasa bekerja," kata seorang wanita yang sudah menikah. "Saya tidak bisa melakukan semuanya sendiri, oleh karena itu saya menghubungi jasa suami sewaan."

Tarif yang dikenakan tergantung pada jasa yang diberikan. Menggantung hiasan di dinding biayanya USD 6, memperbaiki kursi USD 8. Membersihkan sampah di seluruh bagian rumah bisa mencapai USD 130. [di/arb/www.hidayatullah.com]
Baca Selanjutnya..

Selasa, 11 Agustus 2009

Wartawan Holland: Wabah Flu Bagian Dari Konspirasi Yahudi

Organisasi Yahudi di Belanda mengecam wartawan asal Holland, Désirée Röver, 61, atas pernyataannya yang dimuat harian terbesar di Holland, De Telegraf pekan lalu. Center for Information and Documentation on Israel (CIDI) menuding Röver anti-semit atas pernyataan itu.

Dalam wawancara dengan De Telegraf, Röver mengatakan bahwa wabah flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1 adalah bagian dari konspirasi internasional dengan tujuan untuk mengurangi jumlah penduduk dunia. Konspirasi itu, kata Röver, bisa ditelusuri lewat keberadaan kelompok-kelompok keturunan bangsa Khazar. Bangsa Khazar adalah komunitas yang berasal dari wilayah Kaukasus, yang diyakini memeluk agama yudaisme sejak 1.200 tahun yang lalu.

Menurut Röver, masih dalam wawancara itu, para keturunan orang-orang Khazar ini sekarang sudah menyimpang dan memiliki sembahan-sembahan baru sebagai tuhan mereka seperti lucifer, setan dan komunitas ini sekarang bisa dikenali dengan sebutan "Rockefeller, Rothschild, Brezinski dan Kissinger", nama-nama yang identik dengan tokoh-tokoh Yahudi.

Pimpinan CIDI, Ronny Naftaniel mengecam pernyataan Röver dan mengaku baru kali ini ia mendengar klaim bahwa ada keterlibatan konspirasi Yahudi dalam penyebaran virus flu burung. "Kelihatannya ada yang salah dalam pikirannya," kritik Naftaniel pada Röver.

Namun Naftaniel mengakui bahwa cerita-cerita tentang keterlibatan Yahudi dalam penyebaran aneka penyakit, bukan cerita baru. "Cerita bahwa Yahudi meracuni sumur-sumur sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dan cerita Röver akan membuat sentimen ant-Yahudi makin meningkat," ujar Naftaniel.

Ia menyatakan, CIDI sedang mengkaji kemungkinan untuk mengajukan gugatan hukum terhadap Röver. Undang-Undang Belanda menyebutkan, hanya orang-orang yang terbukti memiliki niat jahat yang bisa dikenakan tuduhan menyebarkan kebencian atau anti-Semit. (ln/hz)

www.eramuslim.com

Baca Selanjutnya..

Senin, 10 Agustus 2009

Tiga Dosa Media dalam Liputan Bom

JAKARTA- Dua pekan berlalu sejak bom kembar mengguncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, namun gegap-gempita laporan media massa terkait dengan peristiwa tersebut tampak belum menyurut. Nyaris tak ada media berita yang absen melaporkan perkembangannya setiap hari. Sebuah kenyataan yang wajar, mengingat peristiwanya masih terus berkembang dan menyisakan sederet tanda tanya, termasuk mengenai belum tersingkapnya teka-teki pelaku dan motifnya.

Di satu sisi, “kehebohan” yang berlangsung di kalangan media ini tentu perlu disambut hangat, karena ini menunjukkan bahwa media tengah menjalankan fungsi dan menunaikan tugas mereka sebagai penyedia informasi bagi masyarakat. Dengan kata lain, media tengah melayani khalayak untuk memenuhi salah satu hak asasi khalayak, yaitu hak untuk mendapatkan informasi.

Namun, pada sisi lain muncul juga situasi yang mengundang keprihatinan ditinjau dari sudut disiplin ilmu dan praktek jurnalisme, sebagaimana tecermin dari judul yang dipakai untuk tulisan ini. Sebelum melangkah lebih jauh, saya hendak menegaskan bahwa apa yang saya maksudkan dengan “dosa” dalam konteks ini semata-mata untuk memberikan efek penguatan, bukan diniatkan untuk menjadikan media sebagai pesakitan.

Tulisan ini juga tidak bermaksud menunjukkan secara terperinci kasus per kasus, dan tidak pula hendak menuding secara spesifik media mana yang telah melakukan perbuatan “dosa” tadi. Tulisan ini lebih sebagai sebuah gambaran umum, dengan niat agar bisa dijadikan alat becermin dan mawas diri bagi para pemilik, pengelola, dan pekerja media, untuk melakukan langkah-langkah koreksi dan pembenahan di masa datang.

Tiga “dosa” yang dimaksudkan di sini hampir selalu menghantui dan dapat memerangkap media jika berhadapan dengan peristiwa pengeboman seperti yang terjadi di Mega Kuningan ini. Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya perangkap tersebut, antara lain “perlombaan” mengejar kecepatan dan eksklusivitas berita sehingga mereka tak terlalu awas lagi terhadap nilai-nilai yang dikedepankan oleh etika jurnalisme (misalnya saja pentingnya akurasi, juga sikap untuk selalu mengupayakan kepatutan/decency). Di tengah perlombaan yang dipicu oleh iklim kompetisi sangat ketat semacam ini, yang lebih tampil adalah hal-hal sensasional, yang bermuara pada aspek komersial, dan tersingkirkanlah nilai-nilai ideal. Faktor lainnya adalah “kemalasan” wartawan untuk melakukan verifikasi guna menawarkan sebuah kontra-teori atas apa yang disampaikan oleh lembaga-lembaga resmi (dalam kasus bom Mega Kuningan, yang mendominasi adalah versi resmi dari pihak kepolisian).

“Dosa” pertama yang dilakukan media dalam konteks laporan bom Mega Kuningan ini adalah pengabaian terhadap asas kepatutan. Ini tampak nyata, terutama pada media televisi, di mana gambar-gambar yang seharusnya tidak patut ditampilkan (misalnya saja gambar yang menunjukkan bagian-bagian tubuh yang telah terpenggal terkena bom) tetap terpampang. Keprihatinan yang serius telah disuarakan oleh Dewan Pers begitu tayangan tersebut muncul. Sebagian besar media kemudian mendengarkan kritik ini, namun sebagian lainnya masih sempat berlenggang kangkung, business as usual.

“Dosa” kedua, media telah menempatkan dirinya bukan lagi semata-mata sebagai pelapor, melainkan telah bergerak terlalu jauh hingga menjadi interogator, bahkan inkuisitor (salah satu definisi dari istilah terakhir ini adalah a questioner who is excessively harsh alias “seorang pewawancara yang amat kasar”). Inilah yang dengan mencolok diperlihatkan oleh sejumlah stasiun televisi saat para reporternya melakukan wawancara terhadap sejumlah anggota keluarga atau kerabat dari nama-nama yang diduga oleh pihak kepolisian terlibat dalam aksi pengeboman itu. Para sanak keluarga dan kerabat ini seperti tengah mengalami mimpi buruk: hidup yang semula barangkali aman-tenteram, seketika terusik oleh kehadiran para juru warta yang dengan agresif berupaya mendapatkan keterangan–apa pun bentuk keterangan itu–dari mereka.

Media tentu boleh-boleh saja mencari informasi dari mereka, namun harus dengan pertimbangan masak, setidaknya untuk dua hal: (a) relevansi (misalnya, apakah seorang paman dari salah seorang yang disebut-sebut terlibat dalam aksi itu cukup relevan untuk dijadikan narasumber, apalagi sang paman kemudian mengaku sudah 10 tahun tak pernah lagi berhubungan ataupun mendengar kabar mengenai keberadaan sang keponakan); dan (b) cara mengorek informasi. Untuk butir terakhir ini, yang hadir ke hadapan khalayak adalah kesan bahwa pihak yang diwawancarai ditempatkan seolah-olah sebagai pesakitan. Inilah salah satu wujud nyata dari apa yang disebut sebagai trial by the press, bahkan ia telah layak digolongkan sebagai teror dalam bentuk lain.

Masih terkait dengan “dosa” nomor dua ini, perkembangannya kemudian malah kian runyam, yakni ketika tiba-tiba pihak berwajib menyebutkan bahwa nama-nama yang semula diduga terlibat dalam aksi pengeboman itu ternyata keliru. Tidak tampak rasa bersalah, apalagi permintaan maaf terbuka, dari kalangan media yang sebelumnya telah menjalankan peran inkuisitor tadi. Padahal para sanak keluarga dan kerabat itu telah terpapar begitu terbuka ke publik, telah menjadi buah bibir di mana-mana dan bukan tak mungkin telah dijauhi oleh lingkungannya. Damage has been done, dan seakan tak ada upaya dari pihak yang merusak untuk menata kembali kerusakan itu.

Untuk “dosa” pertama dan kedua, obat penawarnya adalah pemahaman terhadap nilai-nilai dan praktek penerapan etika jurnalisme. Setiap lembaga media perlu menerbitkan pedoman internal penerapan etika jurnalisme ini. Setiap wartawan wajib mempelajarinya dan memahami isinya, bila perlu dengan membuat pelatihan khusus mengenai etika dengan berbagai studi kasus yang konkret bagi setiap wartawan baru. Bila perlu, ditambahi pula dengan kontrak kerja yang mencantumkan bahwa si pemegang kontrak wajib mematuhi etika jurnalisme, dan bisa dikenai sanksi tegas jika mengabaikannya. Dengan segala cara ini, nilai-nilai etika jurnalisme menjadi terinternalisasi alias melekat pada diri setiap wartawan, sehingga mereka tahu persis apa yang mesti dilakukan jika diperhadapkan dengan berbagai dilema yang terkait dengan etika jurnalisme dalam tugas mereka sehari-hari.

Adapun “dosa” nomor tiga adalah hal yang sudah lama menjadi keprihatinan saya dan telah berulang kali pula saya suarakan, yaitu kemalasan media untuk mencari alternatif versi cerita di luar apa yang disorongkan oleh lembaga resmi. Untuk mendapatkan versi alternatif ini, tentu saja diperlukan upaya ekstrakeras dari media untuk terus menggali informasi dari berbagai sumber, untuk melakukan verifikasi tanpa bosan, untuk tetap skeptis alias tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima, termasuk–tepatnya, apalagi–yang datang dari pihak resmi. “Dosa” ketiga ini sebetulnya terkait dengan “dosa” kedua. Jika media melakukan pertobatan untuk sekuat tenaga menghindar dari “dosa” ketiga ini, hampir pasti media juga akan terhindar dari “dosa” kedua. Sebab, media pasti tidak akan terburu-buru menggeruduk sanak keluarga dari mereka yang dituduh terlibat dalam aksi pengeboman itu, sebelum diperoleh petunjuk sangat kuat yang mengarah pada nama-nama tersebut .

Sebetulnya, perangkap tiga “dosa” seperti ini tak perlu lagi terjadi dalam kasus bom Mega Kuningan ini, karena bukan pertama kalinya media di Indonesia melaporkan peristiwa pengeboman. Namun, mungkin media luput menarik pelajaran penting dari kasus-kasus sebelumnya. Atau, kalaupun sempat melakukan perenungan dan memetik hikmah dari kejadian terdahulu, ia masih tinggal sebagai pelajaran, bukan sesuatu yang diterapkan pada tataran praktis. (tempointeraktif.com, 5/8/2009)
Baca Selanjutnya..

Menyoal RUU Kesehatan dan Isu ‘Kesehatan Reproduksi’

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa saat ini DPR sedang menggodok RUU Kesehatan yang baru, menggantikan UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992. RUU Kesehatan yang sudah diproses beberapa tahun lalu itu sedianya akan disahkan menjadi UU September mendatang oleh DPR Periode 2004-2009. Namun, dengan sisa waktu yang tinggal dua bulan lagi, pengesahan UU tersebut kemungkinan bisa disahkan tahun ini, tetapi mungkin juga baru bisa disahkan oleh DPR hasil Pemilu 2009 atau DPR Periode 2009-2014.

Di antara hal penting yang terus didorong-dorong oleh sejumlah kalangan—khususnya para aktivis perempuan—agar masuk dalam RUU Kesehatan yang baru itu adalah ihwal kesehatan reproduksi perempuan. Cedaw Working Group Initiative, misalnya, mengusulkan agar RUU Kesehatan yang baru bisa mengakomodasi kesehatan reproduksi perempuan (TVOne.co.id, 10/7/2009).

Agenda Terselubung

Gagasan di seputar ‘kesehatan reproduksi perempuan’ sebetulnya tidak dilepaskan dari agenda global penjajahan Barat. Upaya untuk mewujudkan gagasan ini adalah langkah lain yang dilakukan Barat yang dimotori AS untuk semakin melemahkan negara-negara berkembang, khususnya negeri-negeri Muslim, dengan cara menekan populasi (jumlah) penduduknya; selain melalui program pembatasan kelahiran melalui program KB, larangan menikah dini, dll.


Jumlah penduduk Indonesia, misalnya, sudah mencapai 238 juta dengan pertumbuhan penduduk pertahun 3,2 juta jiwa. Dengan laju pertumbuhan seperti ini, dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan menyalip jumlah penduduk Amerika Serikat (AS). Negara-negara maju seperti AS memiliki kekhawatiran yang tinggi terhadap laju pertumbuhan penduduk di Dunia Islam seperti Indonesia. Pasalnya, negara-negara maju saat ini mengalami penurunan tingkat pertumbuhan penduduk karena rendahnya angka kelahiran. Akibatnya, penduduk Dunia Islam memiliki hak suara yang lebih tinggi dalam percaturan kelembagaan internasional daripada dunia Barat (Jurnal-ekonomi.org, 2/09/08).

Karena itu, Barat mengembangkan dan menerapkan strategi untuk menekan laju pertumbuhan di Dunia Islam dengan dua strategi: kontrol populasi dan genosida (pembantaian massal) melalui “kesehatan reproduksi”. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh Barat, khususnya AS, untuk menghentikan ledakan jumlah penduduk di negeri-negeri Islam adalah sebagai berikut:

Pertama, pada tahun 1960-an telah diungkapkan secara terang-terangan oleh para pemimpin Eropa dan Amerika untuk melakukan ‘pemusnahan total’ terhadap bangsa-bangsa ‘tertentu’ secara bertahap.

Kedua, tahun 1974, atas permintaan Menteri Luar Negeri AS saat itu, Henry Kissinger, AS mengeluarkan dokumen National Security Study Memorandum 200, 1974 (NSSM, 200) yang menggambarkan kebencian dan rencana AS untuk menghabisi kaum Muslim. Intinya, mereka menyebut masalah kelebihan penduduk dunia sebagai “musuh” yang mengancam keamanan nasional Amerika. Dokumen NSSM 200 yang juga disebut Kissinger’s Report itu hingga hari ini tidak pernah dicabut. Penting dicatat, dokumen itu menyebut Indonesia sebagai salah satu dari 13 negara target utama politik depopulasi (pengurangan jumlah penduduk) (hli.org/nssm_200_exposed.html).

Ketiga, pada bulan Mei 1991, pemerintah AS telah mempublikasikan beberapa dokumen rahasia yang isinya berupa pandangan pemerintah AS, bahwa pertambahan penduduk Dunia Ketiga merupakan ancaman bagi kepentingan dan keamanan AS.

Keempat, AS mengandeng PBB (melalui Lembaga UNDP, UNFPA) dan Bank Dunia untuk mengarahkan opini dunia, bahwa “pertumbuhan penduduk adalah sebuah masalah bagi Afrika, Amerika Latin dan Asia”.

Kelima, AS telah menyalurkan dana yang cukup besar untuk mewujudkan dua strategi ini. Dalam suatu laporan USAID dinyatakan, tahun 1965 sampai dengan 1974, AS telah menetapkan anggaran US$ 625 juta untuk kepentingan kontrol populasi. Anggaran yang telah dihabiskan dari tahun 1968 hingga 1995 adalah sejumlah US$ 1,5 miliar. Dana sebesar itu di antaranya digunakan untuk membeli sekaligus mendistribusikan alat kontrasepsi berupa 10,5 juta kondom, 2 juta pil aborsi, lebih dari 73 juta IUD, lebih dari 116 juta tablet vaginal foaming. Semua bantuan itu ditujukan untuk negara-negara yang dinamakannya LCDs/Negara-negara berkembang (baca: Negeri-negeri Muslim). Bantuan itu di antaranya disalurkan melalui UNFPA, WHO, UNICEF, ILO, UNESCO, World Bank, ADB (Tatad, 2008).

Program KB dan Wacana ‘Kesehatan Reproduksi’

Di Indonesia, program pembatasan kelahiran dikenal dengan istilah halus ”Keluarga Berencana (KB)”. Organisasi internasional yang mempelopori KB adalah International Planned Parenthood Federation (IPPF) yang berdiri pada tahun 1952 berpusat di London, terdiri dari delapan negara (di antaranya AS dan Inggris). IPPF membentuk federasi dengan tujuan pemberdayaan perempuan dalam mengakses layanan kontrasepsi. Selanjutnya di Indonesia didirikan sebuah LSM bernama PKBI (Perkumpulan KB Indonesia) pada tanggal 23 Desember 1957 di Jakarta, yang kemudian pada tahun 1967 PKBI menjadi anggota Federasi Keluarga Berencana Internasional (IPPF) yang berkantor pusat di London. PKBI sebagai cabang dari IPPF memiliki kesamaan dari visi dan misinya. Hal ini semakin memperjelas bahwa program KB adalah rekayasa Barat atas negeri Muslim.

Di Indonesia selama program KB dijalankan (1967-2000) kelahiran tercegah mencapai 80 juta, dan diperkirakan hingga tahun 2009 kelahiran tercegah menjadi 100 juta (Syarief, 2009).

Kemudian pada tahun 1994, dengan dihadiri sekitar 180 negara, Barat melalui UNPFA-PBB menyelenggarakan Konferensi ICPD di Kairo. Konferensi ini menghasilkan kesepakatan tentang ‘kesehatan reproduksi’ (Kespro) sebagai salah satu program kesehatan yang harus menjadi prioritas di semua negara di dunia.

Jika kita amati, kesehatan reproduksi yang diusung ICPD tidak sekadar menghendaki adanya kontrol populasi, tetapi juga ‘genosida’ (pembantaian massal). Ini dapat dibuktikan dari arsip tentang rencana Kerja ICPD terkait Kesehatan Reproduksi.

Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang merupakan salah satu unsur Kespro sudah digencarkan sejak diratifikasi pada tahun 1994 dan diresmikan sebagai program Pemerintah pada tahun 2000. Filosofi Pogram KRR adalah remaja harus mendapatkan pengetahuan seksualitas dan Kespro sesuai dengan kerangka kerja ICPD agar remaja tidak melakukan seks bebas dan mengalami berbagai masalah Kespro. Remaja harus mendapat penjelasan tentang perubahan fisik dan psikis remaja; alat kelamin (organ reproduksi), berikut bagaimana proses reproduksi terjadi; kehamilan dan cara pencegahan KTD (Kehamilan Tidak Dikehendaki), ‘aborsi aman’; homo dan lesbi harus diakui sebagai suatu identitas seksual; seks bebas yang ‘aman’; juga info tentang berbagai penyakit menular seksual serta cara pencegahannya (Budiharsana, 2002).

Namun hasilnya, alih-alih reproduksi sehat, yang terjadi justru sebaliknya. Seks bebas yang menjadi pokok pangkal berbagai masalah KRR justru semakin marak dalam kehidupan remaja. Buktinya, terjadi peningkatan persentase remaja yang melakukan seks bebas sebesar 32,7-52,7%. Pada tahun 1992, sebelum ada program KRR, berdasarkan penelitian YKB di 12 kota besar Indonesia, ada 10-31% seks bebas. Lalu pada tahun 2008, setelah 14 tahun KRR digencarkan, meningkat menjadi 62,7% (Hasil survey KPA di 33 propinsi).

Lebih dari itu, KRR tidak lain bentuk kontrol populasi karena:

1. Adanya target penundaan usia perkawinan alias “larangan menikah di usia muda”. Untuk mencegah pasangan usia subur menikah dini (di bawah usia 20 tahun), Pemerintah mengeluarkan program Penundaan Usia Perkawinan (PUP) sebagai bagian dari Program KB Nasional (Sumber: Buku PUP dan Hak-Hak Reproduksi Remaja di Indonesia, BKKBN, Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, Jakarta,2008).

2. Penggunaan kontrasepsi. Kaum ibu dengan usia 20-35 tahun dianjurkan untuk menjarangkan kehamilan dengan hanya membatasi jumlah anak selama rentang 15 tahun dengan 2 anak (jarak 7-8 tahun). Bahkan pencegahan kehamilan akan tetap dilakukan setelah berusia 35 tahun. Seluruh pencegahan kehamilan diarahkan untuk menggunakan alat kontrasepsi.

Program KRR tidak hanya mengarahkan kontrol populasi, tetapi juga ‘genosida’ (pembantaian massal), karena:

1. Memfasilitasi aborsi (pengguguran kandungan’) meski dikatakan ‘aman’. Dalam konteks KRR, jika seks bebas mengakibatkan terjadi kehamilan tak diinginkan (KTD) maka atas nama hak reproduksi serta terwujudnya mental yang sehat—menurut definisi ICPD—remaja diberi sarana untuk mengakhiri hasil perzinaannya itu dengan aborsi. Di Indonesia, berdasarkan survei KPA tahun 2008, ternyata 25% atau sekitar 7.000.000 remaja yang melakukan seks pranikah itu mengakhiri nyawa janinnya di meja aborsi. Lalu akibat berbagai komplikasi setelah tindakan aborsi, ada sekitar 42.000 remaja putri pelaku seks bebas yang meregang nyawa akibat perbuatan maksiat itu.

2. Memperluas penyebaran penyakit HIV/AIDS. Dalam KRR terdapat anjuran menggunakan kondom untuk seks yang katanya ‘aman’. Padahal kondom tidak bisa mencegah penularan virus HIV/AIDS yang melumpuhkan sistem pertahanan tubuh dan berujung pada kematian. Dengan demikian, memfasilitasi seks bebas sama saja dengan ‘menfasilitasi kematian’. Inilah bukti pembantaian massal’ melalui KRR.

Solusi Islam

Isu ‘ledakan jumlah penduduk’ atau ‘kelebihan populasi’ hanyalah alat yang sangat berguna untuk menjelek-jelekkan negara-negara dengan pertumbuhan penduduk yang besar (baca: negeri-negeri Muslim) dan pada saat yang sama mengurangi risiko berkurangnya pengaruh negara-negara maju di masa datang. Kaum Muslim tentu harus sadar terhadap konspirasi ini. Sebab, jumlah penduduk kaum Muslim yang besar adalah modal potensial untuk membangun SDM yang tangguh dan akan memimpin dunia.

Lagipula banyaknya jumlah penduduk di dunia tidak akan menjadi masalah berarti. Sebab, pada dasarnya Allah SWT menjamin ketersediaan sumberdaya alam ini untuk menopang kehidupan manusia sampai Hari Kiamat (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 22). Yang menjadikan sebagian manusia mengalami kemiskinan atau krisis pangan (kurang gizi/kelaparan) tidak lain karena kerakusan ideologi Kapitalisme Barat. AS, misalnya, hanya memproduksi 8% minyak bumi, namun mengkonsumsi 25% jumlah minyak bumi yang ada dunia. Jumlah penduduk Barat hanya sekitar 20% dari populasi dunia, namun menghabiskan 80% dari produksi pangan dunia. (Jurnal-ekonomi.org, 2/9/08).

Jelas, semua agenda di atas adalah untuk mengekalkan penjajahan AS dan sekutunya atas kaum Muslim. Allah SWT telah menyatakan dengan tegas bahwa penjajahan atas kaum Muslim adalah haram:

﴿وَلَن يَجْعَلَ الَّلهُ لِلْكٰفِرِينَ عَلَى الْمُؤمِنِينَ سَبِيلاً﴾

Allah sekali-kali tidak akan memberi orang-orang kafir jalan untuk memusnahkan orang-orang yang Mukmin (QS an-Nisa’ [4]:141).

Karena itu, kaum Muslim harus melepaskan diri dari penjajahan AS sebagai negara adidaya pengusung utama ideologi Kapitalisme. Satu-satunya jalan untuk bisa keluar dari penjajahan AS adalah dengan menegakkan kembali sistem kehidupan Islam dalam naungan Khilafah Islam. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.
Baca Selanjutnya..