Selasa, 09 Februari 2010

Madinatul Iman : Tambah Umur Tambah .... ?

Tahun ini, 113 tahun sudah usia Balikpapan. Jauh lebih tua dari hampir seluruh warga yang memperingatinya pada hari ini. Apa yang telah dicapai Balikpapan di usia yang "setua" ini?

Visi Madinatul Iman yang dicanangkan oleh pemerintah kota tampaknya sudah disambut baik oleh warga. Dalam acara launching pada awal tahun hijriah ini, Bapak walikota menjelaskan bahwa Balikpapan madinatul iman adalah Balikpapan yang menjadi City of faith, kota yang didorong oleh semangat keyakinan, dorongan keimanan untuk menjadi lebih baik, maju dengan tetap bermartabat.

Madinatul Iman selalu ditasbihkan kepada kota Madinah di jaman Rasulullah dahulu. Siapa yang tidak ingin memiliki kota seindah itu. Seindah yang yang benar-benar indah, bukan hanya fisiknya tetapi kehidupannya yang makmur, maju di mana setiap warganya dilindungi oleh pemimpinnya, dunia dan akhirat. Dari Madinah lah Rasul memulai mengokohkan kekhilafahan Islam sehingga Islam yang Rahmatan lil 'aalamiin kemudian benar-benar terwujud dan tersebar ke seluruh penjuru dunia, hingga mencapai dua pertiga dunia.


Masa Sebelum Islam

Sebelum Rasul akhirnya mengokohkan Daulah Islam di Madinah, masyarakat arab dikenal sebagai masyarakat jahiliyah. Apa yang terjadi pada masa jahiliyah itu ?

Sistim pergaulannya liberal. Tidak ada aturan yang melarang pergaulan bebas. Campur baur antara lelaki dan wanita dapat bebas terjadi. Prostitusi umum terjadi (biasanya rumah-rumah yang menyediakan layanan ini diberi tanda). Sistim ekonominya ribawi dan penuh kecurangan. Bunga membungakan uang adalah hal yang umum. Mengurangi timbangan sudah menjadi watak penduduk jahiliyah itu. Perempuan mendapat posisi yang terpinggirkan. Bahkan para anak-anak perempuan dibunuh, karena keluarganya malu karena memiliki anak tersebut.Peribadatannya paganisme, menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Terkadang berhala yang disembah itu bahkan dibuat dari roti, yang akhirnya mereka makan sendiri pula.

Setelah diterapkan Islam

Setelah Daulah berdiri, masyarakat jahiliyah itu berubah menjadi masyarakat yang disebut dalam alqur'an sebagai khoyru ummah, umat yang terbaik di antara manusia. Sistem pergaulannya indah dan memuliakan manusia. Jangankan prostitusi, "sekedar" mendekati perzinahan saja sudah sangat ditabukan oleh masyarakat. Perangkat hukum yang ada ditambah dengan keimanan yang tinggi dari masyarakat membuat kehidupan pergaulan yang islami dan menjaga kehormatan manusia. Sistem ekonominya memakmurkan rakyat, karena riba diharamkan secara mutlak, dan perangkat hukum serta keimanan masyarakatnya meniadakan kecurangan. Wanita diberi tempat yang mulia, disayangi dan dilindungi. Serta tiada lagi pembunuhan anak-anak perempuan. Mereka beribadah menyembah kepada Allah, Yang Maha Segalanya, Yang Menciptakan Aturan yang memuliakan manusia.

Sungguh seperti bumi dan langit bila melihat madinah dan jazirah arab SEBELUM Islam dan SESUDAH Islam, Jahiliyah versus Islamiyah, Hitam dan Putih.

Bagaimana dengan Balikpapan?
Back to the Madinatul Iman, Balikpapan. Bila kita refleksikan dengan perbandingan di atas, bagaimana keadaanya ? Apakah mirip Madinah SEBELUM Islam atau SESUDAH-nya ? Hitam atau Putih ?

Kita mungkin masih bersyukur bahwa pengajian-pengajian dan kegiatan-kegiatan keislaman di kota ini cukup marak. Merupakan sebuah modal yang baik untuk meraih visi madinatul iman tersebut.

Bagaimana dengan system pergaulannya ? Saat ini hampir tak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya. Berita yang masih hangat tentang "parade ayam sekolah" di tengah maju mundurnya usaha pentutupan lokalisasi di kota ini membuat sulit untuk tidak mengakui bahwa pergaulan bebas masih mendapat tempat yang luas di kota ini.

Sistem ekonominya ? Riba masih saja menjadi hal yang legal dan terus dilakukan oleh masyarakat. Jurang antara si kaya dan si miskin makin saja bertambah dalam.

Pembunuhan anak ? Kasus pembunuhan anak bahkan sebelum ia dilahirkan (melalui aborsi) marak terjadi. Alih-alih dilindungi, bahkan ada sekelompok orang yang ingin melegalkan pembunuhan seperti ini, demi melindungi hak wanita (si ibu) untuk menentukan apakah kehamilannya diinginkan atau tidak.

Sekedar dari beberapa point di atas, bisa disimpulkan bahwa kondisi kita ini ternyata masih tidak terlalu jauh dari kondisi orang-orang jahiliyah pada masa sebelum diterapkannya Islam. Artinya, masih banyak PR kita bersama untuk mewujudkan Madinatul Iman yang sebenar-benarnya ini.

Apa peran kita?
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan kita sebagai warga yang menginginkan tercapainya visi madinatul iman ini:
Pertama, kita sebagai anggota masyarakat harus selalu berusaha menerapkan syariat Islam di setiap apa yang kita kerjakan. Perlu diingat bahwa syariat Islam bukan sekedar mengatur ibadah mahdhah seperti sholat, puasa, zakat saja. Tetapi di seluruh aspek kehidupan kita.
Kedua, kita harus berusaha membuat suasana dan lingkungan yang kondusif untuk penerapan syariat Islam dengan mengajak masyarakat untuk juga terikat pada syariat Islam di keseluruhan aktifitas yang dilakukannya.
Ketiga, mengkritisi setiap kebijakan penguasa/pemerintah yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
Keempat, tentu saja untuk melakukan ketiga hal di atas, kita harus terus menerus mengkaji Islam.

Dirgahayu Madinatul Iman, Semoga visi ini segera terwujud secara kaaffah.

1 komentar:

  1. semoga madinatul iman dalam arti yang sesungguhnya segera terwujud ,amiin.

    BalasHapus