Alhamdulillah, ngga kerasa ya sebentar bulan Agustus. Dalam penanggalan Hijriah, di bulan ini InsyaAllah kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Berarti puasa lagi dong, shalat tarwih, tilawah Qur’an (yang ini mah dianjurkan di bulan lain juga), de el el. Ramadhan emang ngangenin, sama seperti kamu dan buletin kesayanganmu ini (ehem..ehem). Anyway, gimana nih kabarnya? Masih tetap semangat kan menjalani roda kehidupan? (emang gerobak).. Semoga Allah swt. selalu melimpahkan rahmat-Nya pada kita semua, amin. Di edisi kali ini kita bakal ngebahas tentang kamu dan ortu loh. Bukan bermaksud ngambil kerjaannya guru BK, tapi setelah baca buletin ini kamu diharapkan akan semakin perhatian ke ortu en begitu juga ortu ke kamu.Enaknya dimulai dari mana ya??? Gini aja, klo kamu lagi ada masalah, apa yang pertama kali kamu lakukan? Apa kamu termasuk tipe yang langsung curhat ke ortu atawa lebih sreg cerita ke temen? Atau malah demen nyimpan masalah kamu sendiri (sampai wajah yang dari sononya udah kusut jadi tambah berantakan, hehehe.. piss). Kalo kamu cenderung menjawab pilihan yang pertama maka ortu di rumah bisa dikatagorikan cukup “berhasil” mengambil tempat di hati anak-anaknya. Ortu tipe ini biasanya akan selalu punya waktu untuk mendengarkan setiap permasalahan kita, meski mereka pun juga punya masalah.
Lain halnya dengan pilihan yang kedua. Kalo pilihan ini yang kamu ambil maka kemungkinannya ada dua. Pertama, ortu di rumah emang kurang terbuka untuk menerima curhat anaknya. Kedua, kita sebagai anak yang gengsi cerita ke ortu karena khawatir dicap anak mama (daripada anak tetangga). Akhirnya permasalahan kita tertuju pada teman yang kita anggap bisa kasih solusi. Pada awalnya mungkin teman kita bisa toleran dengan masalah kita, tapi saat masalah itu kian manumpuk en solusi tak kunjung datang, apa yang terjadi? Nah, disini biasanya teman tadi akan perlahan menjaga jarak dengan kita untuk kemudian mengalihkan pertemanannya pada yang lain sebagai upaya untuk menghindar dari masalah kita (hiks..hiks). Kesannya kejam banget ya, tapi wajar aja karena teman kan sebatas pribadi yang akrab dengan kita diluar hubungan keluarga. Dengan kapasitasnya yang terbatas ia akan jenuh dengan keluh kesah seseorang yang tak berujung dari orang lain, walau itu sahabatnya sendiri. Parahnya lagi, kalo temen kita ringan mulut alias ember, hehehe.. curhatan kita yang tadinya top secret bisa diakses temen satu sekolah (bahkan paman kebunnya pun tau). Tapi, apa mungkin pribadi seperti ada dalam diri ortu yang sayang pada anaknya? Mungkinkah ortu tega mengumbar curhat anaknya, ketika itu berupa aib misalnya, pada orang lain?
Temen-temen yang dirahmati Allah, bersyukurlah kita atas karunia ortu yang perhatian. Dibandingkan dengan sahabat-sahabat kita yang lain, kredibilitas (waduh, apaan tuh) alias kemampuan artu dalam menyelesaikan masalah pasti bisa diandalkan. Tentunya hal ini tidak terlepas dari pengalaman yang mereka miliki. Namun, haruslah ortu yang paham tentang masalah dan solusi yang tuntas pula. Kamu pasti pernah baca (udah ngaku aja) potongan ayat dalam Qur’an surah An-Nahl ayat 89, yang artinya: ” ..Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).”
Dari ayat di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa hanya ortu yang paham Islam yang mampu menuntaskan permasalahan anak-anaknya. Ortu yang paham Islam juga pasti akan pro aktif mencari tau apa gerangan yang sedang terjadi pada buah hatinya. Inilah sosok ortu yang shalih dan shaliha. Apalagi figur seorang ibu, wah.. penting banget tuh jadi ibu yang shaliha. Dalam salah satu hadits dikatakan “Wanita adalah tiang negara”. Wajar aja, coba kita bayangkan.. (jangan ngelamun..). Pelaku kebijakan dan penggerak sebuah negara memang manusia-manusia dewasa, tapi sebelum mereka tumbuh menjadi dewasa mereka tidak lebih dari sekumpulan anak-anak yang sangat bergantung dengan ortu, utamanya ibu. Nah, kalo ibunya aja ngga peduli dengan anaknya, jauh dari nilai Islam, semaunya sendiri, gimana anak-anaknya?
Hal inilah yang disadari betul oleh orang-orang kafir. Mereka paham bahwa ibu kita punya peran strategis untuk melahirkan generasi yang unggul. Generasi ini yang nantinya ditakutkan mampu mempelopori kebangkitan umat Islam. Sampai disini, agenda mereka terus bergulir. Temen-temen mungkin pernah denger istilah Liberalisme (yah sejenis makanan ringan gitu, hehehe..). Paham inilah yang coba dihembuskan oleh mereka yang phobi pada Islam. Liberalisme dibidik pada sendi yang terkecil dari kaum Muslim, yakni keluarga. Perlahan para ibu digerakkan hatinya untuk merasa tidak nyaman saat harus menjadi ibu rumah tangga. Pedenya kalo kerja kantoran, pake jas, stoking, atau sepatu yang haknya di depan (hehehe..emang egrang). Sebelum memutuskan untuk menikah dan menjadi ibu pun para remaja putri “digiring” minatnya untuk kelak terjun menjadi wanita karir. Begitulah seterusnya, sampai diharapkan tidak ada satupun ibu yang mampu mengasuh anaknya dengan Islam melainkan hanya sedikit.
Liberalisme juga masuk melalui celah penentuan jumlah anak. Sedini mungkin pasangan akan akan menikah diberi gambaran tentang beratnya mengasuh anak yang banyak. Mereka dicekoki dengan anggapan semakin banyak anak akan semakin turun angka kesejahteraan sebuah keluarga. Mahalnya biaya sekolah, melonjaknya harga sembako dan BBM, semakin menjadi mimpi buruk bagi ortu yang punya anak banyak Makanya mereka mengkampanyekan dua anak cukup. Kalo boleh cerita sedikit, tingginya biaya hidup yang harus ditanggung ortu kita saat ini juga disebabkan oleh Liberalisme itu sendiri. Pemerintah yang seharusnya bertanggungjawab mengayomi kebutuhan pokok rakyatnya berkenan untuk berbagi “amanah” pada para pengusaha kaya. Alhasil, yang kaya semakin kaya yang miskin pun semakin miskin. Inilah sistem Kapitalis-Sekuler yang bobrok itu, induk semang dari Liberalisme. Weleh .. weleh ribet bener, padahal awalnya cuma masalah curhat ke ortu kok sampai ngomongin Liberalisme segala. Itulah kehidupan yang fana (apaann sih..)
Temen-temen yang baik, sudah saatnya kita kembali ke Islam. Karena hanya dengan Islam, setiap masalah yang sedang dan akan kita hadapi bertemu dengan solusi tuntasnya. Ortu kita pun akan terkena imbasnya, mereka bisa lebih care dengan anaknya. Peran kita disini adalah bagaimana supaya keberadaan kita di tengah masyarakat ada manfaatnya. Saatnya kita menggali ilmu sebanyak mungkin tentang Islam, pahami, amalkan, dan da’wahkan pada yang lain. Kita coba pahamkan juga pada ortu di rumah, pada ibu utamanya, supaya beliau mau meluangkan waktu untuk mendengar kabar anak-anaknya hari ini. Pasti kita senang kan kalo curhat kita didengar oleh orang yang tepat. Mungkin bisa dicoba sebelum curhat ke ortu nyanyi dulu reff-nya Viera, dengarkan curhatku ..dengarkan curhatku .. hehe.. Moga ada manfaatnya, Wallahu’alam.
by Adiba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar