Selasa, 22 September 2009

Kembali Fitri ? Maksudnya ?....

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah): (tetaplah atas) fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yg lurus: tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. “ (QS. 30:30)

Dalam banyak ucapan lebaran, kata-kata "kembali fitrah" sering diselipkan sebagai do'a bagi kita. Banyak yang memaksudkan kalimat "kembali fitrah" sebagai harapan agar saldo-dosa kita di-reset ke zero, sehingga kita Lahir suci kembali seperti layaknya bayi yang baru dilahirkan. Benarkah konsep tersebut ?



Konsep tersebut benar asal dipahami dengan benar. Pemahaman yang keliru terhadap konsep tersebut, bisa berbahaya. Mengapa ? Allah berfirman bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita menjadi bertaqwa (QS AlBaqarah : 183). Menurut imam Ghazali, makna taqwa adalah melakukan sesuatu itu dengan sangat hati-hati seperti hati-hatinya orang yang berjalan di atas jembatan yang sempit yang terbuat dari kayu yang rapuh. Bisa kita bayangkan, bagaimana bila kita berjalan di atas jembatan dengan kondisi seperti itu.. pasti akan sangat hati-hati, bukan ?

Ya, orang yang bertaqwa, maka dalam bertingkah laku akan sangat berhati-hati, tidak akan menganggap enteng atau sembrono. Semakin taqwa, akan semakin berhati-hati lagi dalam berbuat, khawatir dan takut apa yang dilakukannya tidak menyenangkan Allah dan RasulNya. Karena sejatinya, itulah tugas manusia di dunia ini : Menyenangkan Allah dan Rasul-Nya, "what else ? "

Perbedaan mendasar dalam memahami konsep "kembali fitri", memberikan implikasinya yang sangat berbeda pada kita. Coba lihat perbedaannya, sbb :

Pemahaman pertama, di mana penghapusan dosa atau re-setting saldo dosa kita ke zero membuat kita jadi merasa enteng untuk mengulang dosa-dosa kita setelah ramadhan usai. "Toh saldo dosa kita sudah kecil (zero)", mungkin pemikiran seperti itu menghinggapi benak kita... sehingga sepanjang tahun berikutnya kita boleh melakukan lagi dosa-dosa yang sama, dengan harapan dapat di-reset lagi di ramadhan berikutnya.

Bila mentalitas seperti di atas yang ada di benak-benak kita, kita wajib khawatir bahwa puasa-puasa kita ini tidak sepenuhnya sukses untuk meraih taqwa.

Pemahaman kedua, kembalinya kita ke "fitri(fitrah)" itu adalah sesuatu yang harus dipertahankan (bahkan ditingkatkan). Sehingga, kalau toh saldo dosa kita direset ke zero, maka harus dipertahankan untuk tetap zero. Bahkan, setelah melalui ramadhan sebagai ajang latihan untuk diri kita, mentalitas kita menjadi lebih baik lagi, lebih taqwa, lebih hati-hati dalam bertindak dan berbuat, sehati-hati orang yang berjalan di atas jembatan sempit dan rapuh sebagaimana digambarkan oleh Imam Ghazali di atas.

Dengan mentalitas yang ini lah, kita bisa meraih sukses selepas ramadhan.. Satu kali ramadhan, meningkat satu kelas ketaqwaan kita.. dua kali ramadhan, meningkat lagi.. dan seterusnya.. Inilah orang-orang yang sukses dan beruntung dan mendapatkan manfaat dari Ramadhan, insya Allah.

Bagaimana fenomena di masyarakat tentang "kembali fitri"

Harus diakui, dari fenomena yang kita lihat saat ini, konsep "kembali fitri" yang dipahami masyarakat masih banyak yang keliru. Pada umumnya masyarakat meredakan maksiat dan bertobat di Ramadhan, mengharap untuk kembali fitri, namun mengulang lagi kebiasaan lama (kemaksiatan) saat memasuki syawal dan bulan-bulan berikutnya. Bisa dilihat, tempat-tempat hiburan yang ditutup semasa Ramadhan mulai menggeliat lagi, artis-artis yang lebih sopan dan tertutup semasa Ramadhan, mulai luntur lagi (kesponanannya).. dan banyak contoh2 lain yang kita lihat di media maupun di masyarakat secara langsung.

Bagaimana dengan anak-anak kita, adik-adik kita, teman-teman kita, saudara-saudara kita atau bahkan kita sendiri ? Masyarakat di mana kita berada memberi pengaruh besar pada kita semua.. mampukah kita kembali fitri dengan sebenar-benarnya ?

Sesungguhnya, dalam kondisi seperti ini, pilihan kita hanya dua : mempengaruhi atau dipengaruhi, menjadi subject atau menjadi object. Kalau tidak mau terpengaruh, kita harus memilih untuk menjadi subject, dan mempengaruhi lingkungan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan dakwah ila al Khoyr (Islam),mengajak kepada kebaikan (Islam). Kita dakwahi orang-orang sekitar kita, keluarga, saudara, tetangga, teman-teman dan masyarakat, sehingga terbentuk lingkungan yang kondusif dan nyaman agar kita semua bisa smoothly kembali fitri, dan menggapai sukses yang dijanjikan Allah SWT.

Taqabalallahu minna wa minkum, Shiyamanna wa shiyamakum, Taqabal yaa Kariim. Minal Aidzin wal Fa'idzin.. Mohon maaf lahir dan bathin.. Semoga kita semua kembali fitri, dengan sebenar-benarnya, amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar