
oleh Vina Ramitha
(aljazeera.ne)INILAH.COM, Amsterdam – Siapa tak kenal film ‘Fitna’? Warna anti-Islam yang begitu keras, membuat penggagasnya, Geert Wilders, menjadi sorotan. Kini politisi Belanda itu sedang berhadapan dengan hukum di pengadilan negaranya.
Pengadilan Wilders mendapat sorotan di negaranya. Terutama di Eropa, di mana penduduk Muslim yang minoritas mulai merasa ada perlakukan diskriminasi terhadap mereka. Ketika sidang Wilders dimulai, hakim pun sangat berhati-hati.
Tak biasanya pemimpin sidang mengatakan pada tersangka bahwa proses pengadilan dijalankan seadil mungkin. “Kami akan membuat putusan, setelah kata terakhir diucapkan di pengadilan ini,” ujar sang hakim, seperti dikutip RNW, Jumat (22/1).
Mengadili Wilders harus dilakukan dengan hati-hati, mengingat ia dituntut menebarkan fitnah, memprovokasi diskriminasi, dan pada akhirnya berujung pada kekerasan. Bukti tindakannya itu terdapat di seluruh media dunia, terutama dalam film yang ia prakarsai, ‘Fitna’.
Kemudian juga yang paling menghebohkan, ucapannya ketika membandingkan Al Quran dengan Mein Kampf milik pemimpin Nazi Adolf Hitler. Kedua hal itu akan dikaji secara hukum melalui sidang ini.
Dalam sidang dengar pendapat ini, hakim akan memutuskan saksi yang akan dipanggil dalam sesi selanjutnya. Sementara Wilders yang duduk di kursi tersangka, merasa Islam yang harus diadili dan bukan dirinya. Ia bahkan meminta bantuan kolega-kolega warga Belanda yang telah menyuarakan anti-Islam sejak lama.
“Tudingan terhadap klien saya ini tak dikaji secara lebih jauh. Seharusnya ia tak diadili di Amsterdam, melainkan di kota tempat tinggalnya, Hague,” ujar pengacara Wilders, Bram Moszkowicz. Ia menuding jaksa berlaku tak adil dan malah membuat masyarakat membenci komunitas non-Barat dan komunitas Maroko yang banyak di Eropa.
Simpatisan pendukung Wilders juga berkumpul di luar pengadilan dan berunjuk rasa. Sementara kalangan pengacara juga ada yang mendukungnya. Salah satunya adalah Paul Velleman, seorang pengacara terkemuka di negara itu, yang pernah menentang sidang Wilders. Ia merasa tak ada satupun yang dilakukan sang politisi itu yang melanggar hukum.
Velleman adalah spesialis kasus yang berhubungan dengan kebebasan bersuara dan diskriminasi. Ia pernah membuat keputusan untuk tak menyidangkan salah satu kasus kontroversial di Belanda. Kasus itu melibatkan seorang aktivis Belanda untuk Palestina, Gretta Duisenberg, pada 2003 lalu. Perempuan itu sempat menjadi pemberitaan karena berniat mengumpulkan enam juta tanda tangan untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
Meski demikian, saat ini proses hukum terhadap Wilders telah berjalan. Jaksa penuntut telah menyiapkan 70 lembar tuntutan untuknya. Termasuk lima tudingan melanggar hukum Belanda ketika memberikan lebih dari 100 pidato di hadapan publik yang sarat dengan provokasi dan pelecehan. Misalnya, ia pernah ‘memanasi’ publik untuk ikut serta mendukung invasi Islam yang menurutnya sedang terjadi di Eropa.
Untuk membela dirinya, kubu pria berusia 46 tahun ini berencana menghadirkan 18 saksi dalam sidang. Salah satunya cukup kontroversial, seperti Mohammed Bouyeri, pria yang menusuk dan menembak Theo van Gogh di jalanan Amsterdama pada 2004 lalu.
Kasus pembunuhan itu melukai toleransi publik terhadap keberadaan Muslim di Belanda. Van Gogh adalah seorang sineas Belanda yang pernah membuat film anti-Islam mengenai Muslimah, ‘Submission’.
Tewasnya Gogh itulah yang membuat Wilders semakin bernapsu untuk menyerang Islam. Ketua Freedom Party Belanda ini sedang membela nasibnya di pengadilan. Banyak kalangan berharap hakim akan memutuskan dengan adil. Terutama guna mencegah perpecahan lebih dalam antara Muslim dan agama lainnya di Eropa. [mdr]
kaum muslim harusnya makin sadar, bahwa orang-orang kafir pasti memusuhi islam. kita tunggu deh apa keputusan hakim terhadap orang jelek ini. tapi yang jelas,dia gak akan lolos dari pengadilan ALLAH
BalasHapus